Sistem Pemilahan Sampah Untuk Mengendalikan Penyakit di Pondok

26 Januari 2012.

SAMPAH bagi kebanyakan orang biasanya identik dengan hal-hal yang menjijikan dan tidak disukai. Sampah selalu dibuang dan ingin dijauhkan. Kurangnya rasa untuk menciptakan lingkungan yang bersih sehingga masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan, tanpa disadari bahwa hal yang dilakukan tersebut bisa menyebabkan datangnya berbagai macam penyakit dan ketidaknyamanan. Ada juga yang berusaha membakarnya, tapi tetap masih banyak yang belum terurai. Akhirnya sampah menjadi masalah dilingkungan Pondok Pesantren.

 

Namun, bagi KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad selaku Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Sunni Indonesia, bila diambil dari sisi positif sampah merupakan suatu berkah. Menurut beliau sampah yang ada di sekitar  harus dikelola dengan baik sehingga bisa menghasilkan manfaat. Segala yang Allah telah ciptakan semuanya terdapat berkah didalamnya dan tidak ada yang sia-sia. Termasuk sampah.

KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad selalu mengajarkan kepada para santri yang ada di Pondok untuk menyediakan tempat sampah diberbagai wilayah Pondok Pesantren Sunni Indonesia, sarana ini menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk para santri-santrinya. Beliau berharap, santri akan lebih mandiri dan bertanggungjawab sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan agar tetap terjaga dengan cara selalu membuang sampah pada tempatnya. Alhasil, sampah yang ada di Pondok Pesantren bisa dikelola dengan baik, sehingga akan tercipta lingkungan yang baik, bersih dan sehat. Karena sesuai dengan hadits Nabi bahwa sesungguhnya kebersihan itu sebagian dari iman.

Sedangkan sampah organik, dapat juga diolah menjadi pupuk cair maupun padat. Harapan kedepannya  bisa menjadi contoh bagi Pondok Pesantren lainnya agar selalu menjaga kebersihan lingkungan hidup. Selain itu, ketika para santri sudah di tugaskan berkhidmat di masyarakat ataupun kembali dikampung halaman, mereka juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Report by: Izak Muhibbin

Dokumentasi:

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *