Santri Sunni Mengikuti Acara (MMPP) Tingkat Banyuwangi.

Pondok Pesantren Asy Syafa’ah desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring Banyuwnagi tampak ramai. Sabtu pagi 02 November 2019 itu, sedang berlangsung pengajian catur wulan Majelis Musyawarah Pengasuh Pesantren (MMPP), di pesantren yang diasuh oleh KH. Nur Hayyin tersebut tidak hanya jama’ah dari pesantren saja, namun para pejabat dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama juga ikut hadir dalam acara tersebut. Hal ini Menandakan bahwa acara tersebut merupakan acara yang tidak biasa. Spesial!

MMPP memang bukan acara biasa. Acara yang dihelat setiap empat bulan sekali ini telah berlangsung ke-169 kalinya. Istiqomah sejak pertama kali diadakan pada tahun 1964. Menurut KH. Muhammad Ichwan Musthofa, sekretaris MMPP, menyebutkan bahwa MMPP resmi dideklarasikan berdirinya pada 14 Sya’ban 1384 H atau bertepatan 17 Desember 1964. Pertama kali MMPP diadakan di Pesantren Nahdlatut Thullab atau dikenal dengan nama Pondok Pundungan di daerah Kaligoro, Sukonatar, Srono.

Dalam sejarahnya, MMPP pertama kali dirintis oleh delapan tokoh ulama Banyuwangi. Diantaranya adalah KH. Dimyati Ibrahim dari PP. Mathali’ul Falah, Sepanjang, Glenmore, KH. As’adi Sufyan dan KH.Syam’ani dari PP. Nahdlatut Thullab, Sukonatar, Srono, KH. Syamsul Arifin dari PP. An-Nur, Sukomukti, Kebaman, Srono, KH. Imam Muhtadi dari PP. Raudlatul Muta’allimin, Simbar, Tampo, Cluring, KH. Zuhriddin dari Swaloh, Sumbersari, Srono, KH. Mas’ud Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi dan KH. Mukhtar Syafa’at dari PP. Darussalam, Blokagung, Tegalsari.

Dalam pertemuan pertama para kiai-kiai tersebut, KH. Mukhtar Syafa’at tidak dapat hadir. Namun, restu beliaulah yang menjadi point penting berdirinya MMPP. Kiai Mas’ud Hakim awalnya enggan untuk ikut serta merealisasikan kegiatan tersebut, sebelum ada restu dari Kiai Syafa’at yang saat itu tidak bisa hadir dalam rapat. Kemudian, ditemani oleh Kiai Imam Turmudzi, Kiai Mas’ud berkunjung ke Blokagung.

Sesampainya di Blokagung, Kiai Mas’ud sebagai representasi pemerintah, mendapatkan keyakinan untuk mendeklarasikan MMPP pertama kalinya, setelah Kiai Syafa’at memberi restu. Sejak itulah dibentuk kepengurusan MMPP yang kala itu masih sebatas Banyuwangi Selatan. Yaitu wilayah Banyuwangi bagian selatan, terhitung dari Kecamatan Srono ke arah selatan.

Yang ditunjuk sebagai ketua pertama MMPP adalah KH. Dimyati Ibrahim yang akrab disapa Gus Dim Jadab. Namun, ditengah perjalanan sebagai ketua MMPP, Gus Dim terlebih dahulu dipanggil kehadiran Allah SWT. Saat itulah, KH. Mukhtar Syafa’at ditunjuk menjadi pengganti Gus Dim untuk memimpin MMPP.

Di bawah kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at, MMPP berkembang pesat. Jama’ahnya makin bertambah banyak dan secara keorganisasian makin tertata. Nomenklatur “selatan” yang sebelumnya menempel pada kata Banyuwangi, dihapus. Hal ini, bertujuan untuk menjadikan MMPP memiliki cakupan lebih luas.

Saat kepemimpinan KH. Mukhtar Syafa’at ini pulalah awal mula dirintisnya pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam rangkaian acara MMPP. Kitab Ihya’ Ulumuddin yang dikaji khusus Juz III (tiga) saja. Menurut KH. Aly Machfud Syafa’at, putra KH. Mukhtar Syafa’at, pemilihan Juz III kitab Ihya’ Ulumuddin, bukan tanpa alasan. Ada alasan spiritual yang melatarbelakangi. Dalam pemahaman Kiai Mukhtar Syafa’at, hati (inti) dari Kitab Ihya’ Ulumuddin ada pada juz III tersebut.

Dalam perkembangannya, MMPP resmi berada dibawah naungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi semenjak tahun 2003, tepatnya hari Jum’at, 6 Juni. Kala itu, Rois Syuriah PCNU Banyuwangi adalah KH. Hisyam Syafa’at, putra almarhum KH. Mukhtar Syafa’at.

Mata acara MMPP pun makin beragam. Selain pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin, MMPP juga terdapat agenda bahtsul masa’il diniyah, pertemuan pengurus Rabithah Ma’ahidil Islamiyah (RMI) dan Madrasah Diniyah (Madin), Lajnah Falakiyah, UP4, Pertemuan pengurus NU, Ansor, Fatayat dan Jam’iyah Thariqah An-Nahdliyah.

Biasanya, seusai seremonial pembukaan dan tahlil bersama, para peserta MMPP memasuki ruangan masing-masing sesuai dengan organisasi yang diikutinya. Sedangkan di panggung utama diadakan pengajian Ihya’ Ulumddin yang diikuti oleh para jama’ah yang tidak termasuk bagian dari pertemuan-pertemuan diatas.

Ba’da sholat Dzuhur, semua peserta kembali ke panggung utama. Sebelum penutupan, jama’ah dan semua hadirin mendengarkan hasil keputusan bahtsul masa’il yang kebanyakan merupakan persoalan keagamaan yang diajukan oleh para jama’ah MMPP sendiri. Kemudian, acara ditutup dengan doa dan pengumuman acara MMPP empat bulan kemudian.

Sekarang, MMPP dipimpin oleh KH. Zainulloh Marwan, pengasuh PP. Al-Falah, Buluagung, Siliragung bersama sekretarisnya, KH. Muhammad Ichwan Mustofa, katib syuriah PCNU Banyuwangi.

link: (http://banyuwangi.nu.or.id/mmpp-majelisnya-para-kiai-dan-warga-nu-banyuwangi/)

 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *