Halaqah Literasi Digital Kyai dan Nyai Se Kabupaten Banyuwangi

Pusat Studi Pesantren (PSP) mengambil peran guna menghadapi berbagai persoalan bangsa, hal ini diwujudkan melalui kegiatan Halaqah Kiai dan Nyai yang digelar pada 28 sampai 31 Oktober di Mirah Hotel Banyuwangi, Jawa Timur.

Pada kesempatan kali ini  kegiatan tersebut bertema pesantren dan jalan dakwah di sosial media ini diikuti oleh sekitar 20 kiai dan nyai pimpinan dan pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah di banyuwangi.

Direktur Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah menjelaskan ikhtiar yang dilakukannya ini merupakan usaha menjalin jaringan dan konsolidasi lintas pesantren untuk mewujudkan tujuan bersama dalam meningkatkan literasi pesantren sebagai upaya menangkal radikalisme agama.

“Tantangan pesantren di era teknologi tidaklah mudah mengingat propaganda radikal saat ini memanfaatkan berbagai ruang media digital,” pungkas Ubaidillah yang kini mengelola Pesantren Al-Falak Pagentongan, Loji, Kota Bogor.

Dikatakan olehnya, saat ini upaya literasi pesantren sudah dilakukan oleh Pusat Studi Pesantren ke berbagai daerah. PSP sudah keliling ke delapan provinsi untuk meningkatkan penguatan literasi pesantren di era digital.

“Saat in kami sudah memiliki sekitar 600 kader,” ujar dia.

Dengan adanya halaqah para kiai dan nyai, dapat mewujudkan penerus perjuangan para ulama pendahulu. Menurutnya, dahulu para ulama tidak berhenti memperkuat konsolidasi dalam menghadapi sekaligus mencari solusi atas problem bangsa dan negara.

“Perjumpaan para ulama pesantren seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, KH Hasyim Asy’ari adalah usaha memperkuat perjuangan,” ungkapnya.

Dalam meniti perjuangannya saat ini, Ubaidillah mengaku terinspirasi dari kakek buyutnya, KH Tubagus Muhammad Falak, ulama kharismatik kelahiran Pandeglang dan pendiri NU di Bogor.

“Halaqah ini merupakan upaya rekontekstualisasi perjumpaan para kiai,” kata dia.

Menurutnya, pimpinan elit agama, termasuk kiai sebagai pengasuh, dai, pimpinan organisasi sosial keagamaan, maupun pimpinan politik yang berbasisagama, memegang kunci penting ke mana layar akan berkembang dan ke mana biduk agama akan dibawa.

“Ke arah konsensus dan kompromi yang mengarah ke kesejukan dan perdamaian, atau ke arah pertentangan, mutual distrust, konflik, dan kekerasan,” jelasnya.

Melalui halaqah, PSP membahas lima materi penting. Pertama, Seluk Beluk Terorisme: The Untold Story yang dibawakan oleh Ustadz Sofyan Tsauri. Kedua, Pemaknaan Ayat-Ayat Jihad dalam Konteks Keindonesiaan dan Kemanusiaan yang diisi oleh KH Ahmad Ishomuddin.

Ketiga, Jihad Pesantren Berbasis Literasi yang disampaikan Nyai Fadhilah Khunaini. Keempat, Membendung Arus Ekstremisme di Indonesia. Kelima, Integrasi Pesantren dan Masyarakat: Khittah Berdirinya Pesantren yang  dibawakan oleh Kiai Abdullah S`cyam. (nat/nu/dbs/foto:nu)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *