Senantiasa Berharap Setetes Berkah Kiyai

Langkahmu boleh pernah terhenti pada satu titik yang begitu berat untuk melangkah, namun ingat di dalam dirimu ada jiwa yang haus akan rahasia Tuhan yang masih dalam tanda tanya. Cobalah menekan ego yang sebesar gunung es dan luluhkan dengan segenap siraman kerinduan akan ilmu.

Istilah berkah bukanlah sebuah kata asing di telinga mayoritas pencari ilmu, khususnya kalangan santri. Karismanya tak pernah lekang dimakan zaman. Namun pemahaman tentang makna besar itu seolah hanya dimengerti beberapa orang.

Kebesaran ‘barokah; terletak pada kesadaran kita bahwa manfaat itu terus bertambah, sejatinya berkah sendiri bukanlah benda yang dapat dipegang atau dilihat. Berkah adalah sebuah rasa yang manfaatnya dapat dinikmati. Tiap-tiap berkah punya cara dan waktunya sendiri untuk menunjukkan jati dirinya.

Aku pernah melangkah begitu jauh, mengambil keputusan begitu gegabah. Seolah kepentingan hanya milikkku. Seolah aku pernah menolak sebuah surga di dalam ladang ilmu bernama ‘PESANTREN’. Seolah aku merasa kehilangan duniaku saat melangkahkan nasibku masuk kedalam tempat ini.

Merasa semua kebebasanku terenggut. Semua waktuku hanya untuk diatur. Pandanganku terhadap tempat ini menjadi kelabu. Aku memberontak tapi saat menoleh kebelakang aku tak sanggup menatap bila mata kedua orang tuaku yang penuh harap. Semua kujalani seolah tanpa arti.

Waktu tak dapat ingkar janji aku mulai menemukan titik itu tepat tiga tahun aku bermukim, jiwaku menemukan keteduhan yang sepertinya selama ini tak kusadari. Kini aku mulai menyadari inti dari keberadaanku di tempat ini.

Lelahku mulai kudapati berbuah kerinduan akan kesibukanku menggoreskan tinta pena diatas kertas yang mereka sebut “KITAB”. Bibirku kini mulai terbiasa menyampaikan apa yang dulu kudengar dan terasa sangat membosanka. Lidahku mulai menikmati nikmatnya lauk dan nasi di wadah besar, dimana untuk menikmatinya saja membutuhkan sebuah proses yang disebut antri.

Ragaku mulai rindu saat air kran mengguyurnya dengan suara saling bersautan akibat air yang memang harus dibagi dan waktu yang mendesak. Pernah begitu tak suka dengan hati Sabtu yang harus menahan ngantuk dan bosan akibat seminar dan ribetnya mengatur tumpukan buku yang melimpah.

Tapi kini kurasakan kenikmatan barkah itu saat aku dihadapkan dengan teman-teman baru berlebel mahasiswa. Semua yang kubenci dan kurasakan melelahkan kini menjadi sesuatu yang nikmatnya baru aku rasakan.

KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, engkaulah lentera hidupku. Terimakasih guru! Setidaknya hal yang dulu tak kumengerti akan apa yang engkau berikan kini kurasakan kemanfaatanya.

Di mata mereka kualitas kita sempat diragukan. Namun berkat keikhlasanmu kini mereka merasa malu pernah meremehkan istana kecil kita yang inshaallah akan bernilai ibadah dan barkah setiap waktunya.

Dariku yang senantiasa merindukanmu, Santrimu dan Anakmu, Silviatuz Zahro’, Tegaldlimo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *