Mencintai Kiyai Sepenuh Hati

Seorang santri pasti mencintai kiyai sebagai gurunya. Berkat keikhlasan dalam membimbing murid-muridnya ke jalan kebaikan, beliau adalah tergolong orang-orang sholeh. Dengan mempersembahkan kecintaannya terhadap seseorang, dia kelak di akhirat akan bersama orang yang dicintai. Dalam sebuah Hadits diriwayatkan,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ قَالَ وَيْلَكَ وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ فَقُلْنَا وَنَحْنُ كَذَلِكَ قَالَ نَعَمْ فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرَحًا شَدِيدًا

“Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang lelaki penduduk pedalaman mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Kapankah hari kiamat itu akan datang?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celaka engkau! Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Orang itu menjawab, “Saya tidak menyiapkan apappun, hanya saja saya mencintai Allâh dan Rasul-Nya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” Kami mengatakan, “Kami juga begitu.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaba, “Ya.” Mendengar ini, kami merasa sangat berbahagia hari itu. (HR. Bukhari)

Anas Bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:

فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيٍّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ، فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ مَعَهُمْ بِِحُبِّيْ إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidak pernah gembira karena sesuatu apapun sebagaimana kegembiraan kami karena mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Engkau bersama yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan sholeh mereka” (HR Al-Bukhari no 3688 dan Muslim 4/2032).

Dalam Hadits tersebut disebutkan bahwa bahwa orang akan bersama orang yang ia cintai. Di luar hadis tersebut, Anas mengungkapkan bahwa ia mencintai Rasulullah, mencintai Abu Bakar, mencintai Umar bin Khattab. Meskipun amalnya belum seperti mereka, tetapi dengan bekal cintanya kepada mereka, sahabat berjuluk khadim Rasulullah itu berharap kelak di surga bisa bersama mereka.

Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh pernah berkata –dengan penuh tawadhu-

أُحِبُّ الصَّالحين وَ لَسْتُ مِنْهُمْ *** لَعَلِّيَ أََنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَهْ

“Aku mencintai orang-orang saleh meski aku bukan dari mereka. *** Aku berharap, dengan mencintai mereka aku nanti mendapatkan syafaat.”

Tanpa mereka kita bukan siapa-siapa. Tanpa petunjuk mereka kita tidak akan mengenal Tuhan kita. Tanpa bimbingan mereka kita tidak akan mengenal kebaikan. Tanpa ketelatenan mereka, kita tidak memiliki ilmu dan keahlian. Karenanya, cintailah para Kiya, sebab mereka adalah orang-orang . Tirulah gaya hidup mereka, patuhilah petuah-petuah mereka, yaitu orang-orang yang jika kita mengingat mereka, maka kita akan mengingat kebaikan dan mengingat akhirat.

Cintailah semua kelebihan dan kekurangan mereka. Berbaik sangkalah walau terkadang kita belum memahami petuah mereka. Ikhlaslah, walaupun mungkin banyak kejanggalan perintah yang kita rasakan. Siapa tahu karena kecintaan yang tulus maka kita akan dikumpulkan bersama mereka di surga, bahkan dikumpulkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amin. [Yazid]

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *