Ada Berkah Di Balik Sepelenya Menata, Merapikan, dan Membalik Sandal

Terlihat begitu kecil bagi orang-orang yang berfikir kecil. Dan bagi sebagian orang ini terlihat sebuah pekerjaan yang begitu simple. Namun sering kali hal besar datang dari sesuatu yang kecil. Seperti kebiasaan yang tertanam pada diri santri Sunni, tak banyak yang pernah berfikir tentang membalik dan merapikan sandal milik diri sendiri ketika naik atau turun dan keluar atau masuk dari rumah.

Coba kita perhatikan, disebabkan perkara kecil seperti ini diremehkan, banyak keburukan yang timbul disebabkan hal itu. Banyak keributan yang terjadi ketika sebuah kerumunan orang hendak keluar dari sebuah acara mencari sandalnya masing-masing disebabkan satu sandal menindih sandal lainnya. Satu sandal bisa berpisah dengan sandal pasangannya disebabkan ketendang dan keseret langkah seseorang yang tidak tertib perilakuknya.

Disamping masing-masing sandal menjadi najis disebabkan diinjak oleh orang lain, juga yang sering terjadi salah satu sandal jamaah sering hilang karena tertukar atau karena memang diambil oleh jamaah lainnya sepulang dari acara berkumpul tersebut.

Karena merasa miliknya hilang walaupun mungkin tidak hilang, bisa jadi keseret ketempat yang lebih jauh, maka para jamaah yang buruk perilakunya tersebut membalas dengan langsung mencari dan mengabil operan sandal milik orang lain. Hal ini sering terjadi di tengah tengah masyarakat saat adanya perkumpulan, majlis taklim, kenduri, rapat dan lainnya. Namun tidak terjadi di kalangan santri.

Sesuatu yang nampaknya terlihat begitu remeh, namun bagi sebagian orang yang berfikiran besar, kegiatan ini adalah suatu cikal-bakal terbentuknya karakter santri ‘disiplin’. Dengan adanya penerapan hal kecil ini santri Sunni dapat menanamkan pada diri mereka masing-masing dan mengajarkan pada orang disekitarnya bahwa kegiatan kecil itu mampu membuat mereka menjadi pribadi yang terlatih dengan jiwa kedisiplinan, dan segaligus dapat mengantarkan mereka pada titik yang lebih besar di masyarakat.

Selain kebiasaan menata dan membalik sandal milik sendiri, para santri juga terbiasa berebut untuk menata dan membalik sandal milik santri lainnya, milik para ustadznya, dan lebih khusus lagi sandal milik Kiyainya.

Dengan membalik sandal akan terjaga kesuciannya, tidak mengganggu pengguna sandal lainnya, akan memudahkan penggunaan sandal ketika hendak dipakai kembali, dan yang terpenting ada keberkahan dalam menata sandal.

Tidak hanya itu, coba amati, tokoh-tokoh besar akan senantiasa melakukan kebiasaan positif, rapi dan disiplin. Dengan beditu kegiatan ini dapat juga menghantarkan santri menjadi sosok pemimpin dengan kebiasaan positif dan sebagai panutan bagi orang lain.

Dikutip dari buku kebiasaan 2 ulama besar KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Satu hal unik yang sudah menjadi ciri khas santri adalah mereka suka berebutan menata sandal kyainya. Menata sandal kyai adalah bentuk kepatuhan yang tulus dan keta’dziman kepada sosok guru atau kyai dan diyakini didalamnya ada keberkahan. Santri menyebutnya sebagai upaya ngalap berkah.

Perbuatan menata sandal ini juga melibatkan 2 kyai besar Indonesia yaitu KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari saat mereka bersama berguru pada Kyai Sholeh Darat Semarang. Keduanya selalu berebutan dan bersaing untuk dapat menata sandal kyainya. Sebagai ganjarannya, karena perbuatannya itu dimata Kyai keduanya dipandang sangat istimewa.

Kegiatan menata sandal ini terlihat sepele, namun ternyata ada dasar kisah dibalik perbuatan yang melibatkan 2 ulama besar Indonesia itu. Ceritanya adalah sebagai berikut:

Di zaman Rasulullah SAW. ada seorang bocah berumur belasan tahun bernama Salman. Ia selalu datang lebih dulu ke Mesjid sebelum nabi Muhammad saw datang. Setelah Nabi Muhammad SAW. masuk mesjid, Salman kemudian bergegas merapikan dan membalik posisi sandal Rasulullah. Hal itu dilakukan setiap hari sehingga membuat Rasulullah SAW. penasaran untuk mengetahui siapa yang melakukan itu.

Suatu kali saat masuk Mesjid, Rasulullah SAW. sengaja bersembunyi untuk melihat siapa orang yang merapikan dan mengubah letak sandalnya. Saat itulah dilihatlah Salman yang melakukannya.

Nabi Muhammad SAW. kemudian mendoakan Salman agar menjadi orang yang alim dalam ilmu Fiqh. Setelah dewasa dikalangan ulama Salman dikenal kemudian sebagai ahli Fiqh sesuai Nabi SAW. doakan terhadapnya. Dengan menata sandal milik seorang guru akan menimbulkan berkah, dikatakan dalam sebuah kitab;

التبرُّكُ بالنَّعلين من الوليِّ أفضلُ منه بغيرهما لأنهما يَحمِلانِ الجُثَّةَ كلَّها . ( الفوائد المختارة : ٥٧٠ )

“Ngalap berkah melalui sandal seorang wali labih utama dari pada dengan selainnya. Karena sandal di gunakan untuk membawa jasad seutuhnya.”

Itulah kenapa di kalangan santri terjadi kebiasaan menata dan merapikan sandal miliknya dan milik para guru-gurunya. [Silviatuz Zahro’]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *