Masjid Baitusshomad Mengalami Tiga Kali Pembangunan

Pembangunan Masjid Baitusshomad adalah pembangunan masjid yang ke-3, yang dibangun murni oleh dana Pondok Pesantren Al-Qodiriyah yang dipimpin oleh KH. Ainur Rofiq Parijatah Wetan, Srono, Banyuwangi. Sebelumya pesantren sudah memiliki masjid di dalam lingkungan pondok yang asalnya mushollah. Masjid pertama tersebut dibangun oleh pendiri pondok Pesantrn Al-Qodiriyah yang juga abahnya beliau yakni KH. Abdusshomad yang memiliki nama kecil Sayyid Ahmad. Masjid pertama terebut berukuran 5mx5m dengan gaya yang masih tradisional. Pada tahun akhir 80-an masjid awal dirobohkan karena sudah lapuk dan diganti dengan masjid yang kedua dengan ukuran 10mx10m, kemudian masjid penggantinya tersebut dibangun tidak jauh dari masjid pertama dengan arsitektur lebih modern.

Masjid kedua tersebut masih kokoh berdiri hingga saat ini, namun karena dari tahun ketahun pondok mengelami perkembangan yang sangat pesat, dan dirasa sudah tidak dapat lagi menampung jamaah shalat terutama saat shalat Jum’at dan Shalat Hari Raya maka pengasuh merasa perlu menambah kapasitas bangunan tanpa harus merobohkan masjid yang kedua. Keinginan tersebut tidak lama kemudian terkabulkan berkat seorang dermawan dari negara Saudi Arabia yang berkeinginan membantu pembangunan masjid tersebut. Keinginan tersebut disampaikan lewat Hj. Marhama binta H. Usman Rogojampi tepat pada tanggal 25 Ramadhan tahun 2015 M.

Masjid Baitusshomad Ke 2

Masjid Baitusshomad ini dibangun penuh oleh pondok Al-Qodiriyah yang sebagian dananya berasal dari seorang dermawan tersebut. Meneurut pengasuh alhamdulillah pembangunan masjid tersebut tidak sampai merepotkan warga sekitar dan tidak ada donasi dari dermawan lainnya. Bahkan wali santripun juga tidak dimintai dana pembangunan tersebut apalagi sampai minta dana di pinggir jalan. Dalam proses pembangunannyapun juga tidak dikerjakan oleh warga sekitar, karena pembangunan tersebut dikerjakan oleh kontraktor yang sempat berganti tiga kali. Menurut  salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiriyah yang juga merangkap sebagai ketua Yayasan tersebut yakni KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad pembangunan masjid tersebut menelan dana lebih dari 2 Milyar yang kurang lebih 25% berasal dari donasi Habib Jufri dari Arab Saudi.

Masjid yang berukuran 20mx20m tersebut memiliki nama kecil masjid Al-Jufri namun kemudian dirubah menjadi Masjid Jamiul Khoir yang tetap berada dalam akte notaris Yasasan Al-Qodiriyah tetap tercantun dengan nama Masjid Baitusshomad. Pebangunan masjid ketiga ini dimulai pada tangga 22 Syawal 1437 atau bertepatan dengan tanggal 16 Juli 2015 Masehi dan belum tuntas pembangunannya hingga penulisan berita ini diterbitkan. Masjid Baitusshomad diperkirakan dapat menampung jama’ah shalat sekitar kurang lebih 1500 sampai 2000 jama’ah. Tidak salah jika dana yang dikeluarkan sangantlah besar karena bangunan itu sendiri dibangun dengan menggunakan kontruksi baja keras. Bahkan bentangan bajanya tanpa menggunakan tiyang penyangga sama sekali.

Menurut konsultannya, masjid tersebut diperkirakan tahan gempa hingga kekuatan 8 skala richter (semoga dilindungi Allah Amin) penggarapannya pun tidak tanggung-tanggung, tidak kurang 28 cakar ayam dengan kontruksi beton solid. Sehingga menurut perhitungan konsultannya insyallah masih tahan bila terjadi gempa susulan. Di depan masjid terdapat halaman yang sangat luas untuk bermain. Meskipun masjid tersebut masih baru pengasuh langsung mendirikan sekretaiat pengurus, toilet, dan sebuah lembaga TPQ yang dikelolah oleh salah satu seorang ustadz Pondok. Dalam  pembangunan masjid memerlukan waktu yang agak lama sekitaran 18 bulan atau satu setengah tahun untuk menjadi masjid yang sempurna dan layak pakai.

Pengasuh meletakan masjid Baitusshomad masih berada dalam lingkungan pondok pesantren Al-Qodiriyah tepatnya di belakang SMP Al-Qodiriyah. Pengasuh memberi nama masjid Baitusshomad bukan semata-mata memberi nama masjid Baitushomad, melainkan dibalik nama tersebut pengasuh mengutip dari nama abahnya yaitu KH. Abdusshomad, menurut beliau kenapa diberi nama dengan “Baitusshomad’’ agar generasi-generasi berikutnya dapat mengenang jasa-jasa beliau sang pendiri Pondok Pesantren Al-Qodiriyah. Karena keinginan pendiri sangat besar terhadap semua santrinya dapat terus memperjuangkan agama Islam rahmatan lil alamin dimanapun mereka berada.

Abdusshomad pernah berpesan kepada semua anaknya dan termasuk kepada semua santrinya agar masjid tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap kebaikan masyarakat Parijatah dan sekitarnya. Cita-cita pendiri tersebut bukan hanya ingin mendirikan masjid saja melainkan beliau bercita-cita lebih baik berdirinya lembaga pendidikan formal maupun lembaga kesehatan untuk pengabdian kepada masyarakat dan ummat.

Harapan-harapan abahnya sering disampaikan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad kepada santri-santrinya disela-sela pengajian Ihya’ Ulumuddin setelah shalat Subuh. Dan itu pun sampai sekarang kami sebagai santri-santrinya masih ingat dengan jelas bahwa pengasuh ingin meneruskan harapan dan perjuangan Abah Abdusshomad. Namun tidak butuh waktu lama kami sebagai santrinya menyaksikan sendiri bagaimana perkembangan pondok pesantren Al-Qodiriyah yang awalnya sangat sederhana menjadi megah dengan berbagai macam fasilitasnya. Bahkan atas izin Allah alhamdulillah sekarang telah berkembang lebih luas lagi yakni pondok Al-Qodiriyah telah memiliki cabang yang tersebar di Banyuwangi saja sudah ada sekitar 6 cabang pondok pesantren. Dengan berbagai lembaga formal yang sudah berdiri mulai tingkat PAUD hingga perguruan tinggi.

Dengan seringnya wejangan-wejangan pengasuh para santri-santri termotivasi atas semua perjuangan beliau. Hanya sekedar informasi hingga saat ini santri-santrinya banyak yang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi favorit baik di dalam kabupaten Banyuwangi maupun di luar kabupaten. Bahkan yang sudah mengabdi di masyarakat sudah tidak terhitung jumlahnya.

Memang seorang santri datang ke pondok dengan berbagai kekurangan, namun berkat doa orang tua dan bimbingan seorang kiyai yang ikhlas serta ketaatan dari para santrinya banyak santri yang akhirnya menjadi santri barokah dan memiliki tekad mulia ikut serta dalam memperjuangkan agama islam melalui pengabdian masyarakat. Itulah barokah yang didapatkan oleh para santri-santrinya. Semoga kita dapat meneladani perjuangan guru-guru kita amin.

DOKUMENTASI PEMBANGUNAN;

Reported by team: Salim, Ulum, Uzzi, Markum, Kholil

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *