Ada Berkah Dalam Makan Bersama

Di Pondok Pesantren Sunni Srono Banyuwangi telah diterapkan kedisiplinan makan bersama. Ketertiban dan kedisiplinan harus ditanamkan sejak dini. Ketika bel tanda dimulai makan bersama berbunyi semua santri langsung dengan kesadaran sendiri membentuk barisan untuk mengantri mengambil jatah makannnya. Kebersamaan dan saling menghargai telah tertanam dengan baik di antara santri Pondok Pesantren Sunni Srono Banyuwangi.

Zaman sekarang ini tradisi makan bersama semakin lama semakin sulit kita jumpai, karena semua orang sudah memiliki kesibukan masing-masing dari orang tua sampai anak-anaknya, Orang tua yang sibuk dengan bisnis dan sebagainya sedangkan anak sibuk dengan bermainnya, Sangat kecil kemungkinanya bisa berkumpul dan bisa makan bersama.

Dengan kesibukan yang sedemikian rupa, Sehingga mereka berfikir makan sendiri jauh lebih nyaman dari pada bersama-sama. kebanyakan mereka lakukan dengan nonton TV, main HP, Game Online dsb, yang disitu jauh dari ajaran yang yang di ajarkan oleh baginda Nabi besar Nabi Muhammad SAW.

Mungkin… kita pernah mendengar kata “ MAYORAN “ Mayoran berasal dari bahasa Jawa yang artinya “makan bersama”. Di dunia pesantren, khususnya pesantren salaf atau modern, mayoran (makan bersama) sudah menjadi tradisi atau bahkan ”ritual wajib”

Dikalangan kami…… traidisi makan bersama ini kami lakukan setip pagi dan sore hari, karena dalam moment ini yang mungkin akan menjadi moment/kenang –kenangan yang takkan pernah terlupakan ketika kita menjadi orang besar kelak nanti, Diantaranya ;

Moment Kedisiplinan 

Ditengah padatnya jadawal kegiatan seorang santri dari  bangun tidur sampai menjelang tidur yang semuanya serba diatur, mulai Mencuci baju, mandi, dsb. kedisiplinan seperti ini tentu saja berpengaruh dalam membentuk karakter santri, sehingga kita dapat melepas rasa capek dan kepenatan dengan MAYORAN (Makan Bersama)

Moment Kesederhanaan

Dengan menu seadanya kami tetap merasa sangat gembira menikmatinya, di pesantren tidak mengenal menu makanan barat seperti  pizza, Hamburger, spaghetti dan lain sebagainya itu mungkin sangat spesial buat kami, cukup dengan menu dapur reyot saja yang hanya nasi, tumis terong, Sambal orek-orek dan tempe itu sudah lebih dari cukup buat kami, ini adalah bukti bahwa MAYORAN (makan bersama) adalah tanda kesederhanaan seorang santri.

Moment Kebersamaan

MAYORAN (makan bersama) adalah pelengkap tradisi kebersamaan seorang santri seperti tidur bersama, mandi bersama, RO’AN ( kerja bakti ) bersama, ngaji bersama dst. MAYORAN (Makan bersama) juga dapat membentuk jiwa kita mencintai kerukunan, persaudaraan, saling tegur sapa dan kesederhanaan.

Sangat bahagia sekali  rasanya bisa makan dengan berkumpul bersama teman – teman, berdo’a bersama juga sekaligus bercanda tawa  dan dengan menu makan yang sangaaat……….. sederhana…….. dari sini kami bisa  banyak belajar Menghargai makanan, Tidak memilih-milih makan, Makan seadanya, Yang jelas …. untuk Tirakat. Itulah sebabnya jarang sekali terdengar kisruh antar santri, tawuran antar pondok pesantren, karena jiwa kami sudah terbentuk dari dalam, Maka dari itu tradisi ini tidak akan pernah luntur di kalangan kami disamping anjuran Rasulullah juga moment yang sangat spesial di hati seorang santriiiii…….. Barakalllah…..

Teladan Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim tidak pernah menikmati makanan sendiri, beliau pasti mengajak keluarga, saudara, tetangga, tamu ataupun orang-orang yang kebetulan lewat untuk makan bersamanya. Suatu hari, ada seorang Majusi yang ingin meminta makanan kepada Nabi Ibrahim. Saat memberi makanan, Nabi Ibrahim menasihati agar si Majusi meninggalkan sesembahannya dan mulai beralih menyembah Allah. Namun, si Majusi malah menolak ajakan dan makanan Nabi Ibrahim sambil meninggalkan rumah Nabi Ibrahim begitu saja.

Saat itulah Allah langsung menegur Nabi Ibrahim, “Hai Ibrahim, Mengapa engkau memberikan makanan dengan sebuah syarat? padahal Aku memberikan nikmat dan rezeki setiap saat kepada makhluk-Ku yang taat maupun durhaka. Apakah engkau tidak malu dengan-Ku yang setiap saat memberikan nikmat dan rezeki kepada seluruh makhluk-Ku biarpun mereka ingkar kepada-Ku”. Setelah mendengar teguran Allah tersebut, Nabi Ibrahim pun bergegas memanggil kembali si Majusi dan memberikan makanan sesuai keinginan si Majusi. Sejak itulah, Nabi Ibrahim semakin tambah dermawan walaupun sebelumnya sudah dikenal sebagai Nabi yang dermawan.

Semoga bermanfaat…..Amiinnn

 

Oleh: Bagus imam Syafi’i

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *