Ta’lim Muta’allim (Etika Belajar)

Oleh: Syaikh Burhanuddin Az zanurji

Muqaddimah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

الحمد لله الذى فضل على بنى آدم بالعلم والعمل على جميع العالم، والصلاة والسلام على محمد سيد العرب والعجم، وعلى آله وأصحابه ينابيع العلوم والحكم.

Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan amal, atas seluruh alam. Salawat dan Salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad, pemimpin seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.

وبعد…فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون [ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون] لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم، رجاء الدعاء لى من الراغبين فيه، المخلصين، بالفوز والخلاص فى يوم الدين، بعد ما استخرت الله تعالى فيه،

Kalau saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengalaman dari ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang saya baca dan menurut nasihat para guru saya yang ahli ilmu dan hikmah. Dengan harapan semoga orang-orang yang tulus ikhlas mendo’akan saya sehingga saya mendapatkan keuntungan dan keselamatan di akherat. Begitu do’a saya dalam istikharah ketika akan menulis kitab ini.

وسميته: تعليم المتعلم طريق التعلم

وجعلته فصولا:

  1. فصل : فى ماهية العلم، والفقه، وفضله.
  2. فصل : فى النية فى حال التعلم.
  3. فصل : فى اختيار العلم، والأساتذ، والشريك، والثبات.
  4. فصل : فى تعظيم العلم وأهله.
  5. فصل : فى الجد والمواظبة والهمة.
  6. فصل : فى بداية السبق وقدره وترتيبه.
  7. فصل : فى التوكل.
  8. فصل : فى وقت التحصيل.
  9. فصل : فى الشفقة والنصيحة.
  10. فصل : فى الإستفادة واقتباس الأدب.
  11. فصل : فى الورع.
  12. فصل : فيما يورث الحفظ، وفيما يورث النسيان.
  13. فصل : فـيمـا يجـلب الـرزق، وفيـما يمـنع، وما يزيـد فى العـمـر، وما ينقص.

Kitab ini saya beri nama Ta’limul Muta’alim Thariqatta’allum.Yang terdiri dari tiga belas pasal.

Pertama, menerangkan hakekat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya.

Kedua, niat dalam mencari ilmu.

Ketiga, cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan.

Keempat, cara menghormati ilmu dan guru

Kelima, kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur.

Keenam, ukuran dan urutannya

Ketujuh, tawakal

Kedelapan, waktu belajar ilmu

Kesembilan, saling mengasihi dan saling menasehati

Kesepuluh, mencari tambahan ilmu pengetahuan

Kesebelas, bersikap wara’ ketika menuntut ilmu

Kedua belas, hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang melemahkannya.

Ketiga belas, hal-hal yang mempermudah datangnya rijki, hal-hal yang dapat memperpanjang, dan mengurangi umur.

وما توفيقى إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب.

Tidak ada penolong kecuali Allah, hanya kepada-Nya saya berserah diri, dan kehadirat-Nya aku kembali.

01: ILMU DAN FIQIH SERTA KEUTAMAANNYA

فَصْلٌ فِى مَاهِيَةِ الْعِلْمِ، وَالْفِقْهِ، وَفَضْلِه

Bab tentang pengertian ilmu dan fiqih serta keutamaannya.

A. Kewajiban Belajar

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّﷺ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلٰى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Rasulullah SAW. bersabda: “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi laki-laki maupun perempuan”

اِعْلَمْ, بِأَنَّهُ لَايُفْتَرَضُ عَلٰى كُلِّمُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ، طَلَبُ كُلِّ عَلْمٍبَلْ يُفْتَرَضُ عَلَيْهِ طَلَبُ عِلْمِ الْحَالِ كَمَا

Ketahuilah, sesungguhnya kewajiban menuntut ilmu ini tidak untuk segala macam ilmu, akan tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu hal (ilmu yang sesuai dengan yang dibutuhkan keadaan), yaitu ilmu yang menyangkut pengetahuan tentang peribadatan atau kehidupan beragama, seperti ilmu tauhid, akhlak dan fikih. 

كَمَا يَقَالُ: أَفْضَلُ الْعِلْمِ عِلْمُ الْحَالِ، وَأَفْضَلُ الْعَمَلَ حِفْظُ الْحَالِ

Sebagaimana dikatakan sebagian ulama: “Ilmu (pengetahuan) yang paling utama adalah ilmu hal dan amal (perbuatan) yang paling utama adalah menjaga perilaku.

وَيُفْتَرَضُ عَلٰى الْمُسْلِمِ طَلَبُعِلْمِ يَقَعُ لَهُ فِى حَالِهِ، فِى أَيْ حَالٍ كَانَ، فَإِنَّهُ لَابُدَّ لَهُ مِنَ الصَّلَاةِ فَيُفْتَرَضُ عَلَيْهِ عِلْمُ مَا يَقَعُ لَهُ فِى صَلَاتِهِ بِقَدْرِ مَا يُؤَدِّىْبه فَرْضَ الصَّلَاةِ، وَيَجِبُ عَلَيْهِ بِقَدْرِ مَا يُؤَدِّى به الْوَاجِبُ، لِأَنَّ مَا يُتَوَسَّلُبِهِ إِلَى إِقَامَةِ الْفَرْضِ يَكُوْنُ فَرْضًا، وَمَا يُتَوَسَّلُبِهِإِلَى إِقَامَةِ الْوَاجِبِ يَكُوْنُ وَاجِبًا

Diwajibkan bagi setiap orang Islam mempelajari ilmu yang berhubungan dengan kewajiban sehari-harinya, walau dalam kondisi apapun. Sebab orang Islam diwajibkan menjalankan shalat, maka wajib baginya mempelajari ilmu yang dibutuhkan di dalam shalatnya sesuai kadarnya, agar dia dapat melaksanakan kewajiban shalatnya secara sempurna.

Dan diwajibkan bagi setiap orang Islam mempelajari ilmu yang menghantarkannya (yang menjadi prasyarat) menunaikan segala sesuatu yang menjadi kewajibannya (seperti rukun dan syarat sahnya shalat), karena sesuatu yang menjadi perantara (prasyarat) bagi sesuatu yang wajib, maka hukumnya juga menjadi wajib.

وَكَذٰلِكَ فِى الصَّوْمِ، وَالزَّ كَاةِ، إِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ، وَالْحَجِّ إِنْ وَجَبَ عَلَيْهِ.وَكَذَلِكَ فِى الْبُيُوْع ِإِنْ كَانَ يَتَّجِرُ.

Demikian pula diwajibkan mempelajari ilmu tentang puasa, zakat bila ia berharta, haji jika sudah wajib baginya, dan ilmu tentang jual beli bila ia berdagang.

قِيْلَ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، رَحِمَةُ اللهُ:اَلاتُصَنِّفُ كِتَابًا فِى الزُّهُدِ؟ قَالَ: قَدْ صَنَّفْتُ كِتَابًا فِى الْبُيُوْعِ، يَعْنِى: الزَّاهِدُ مَنْ يَتَحَرَّزُ عَنِ الشُّبُهَاتِ وَالْمَكْرُوْهَاتِ فِى التِّجَارَاتِ.

Syekh Muhammad bin Hasan pernah ditanya: “Mengapa Anda tidak mengarang kitab zuhud”? Beliau menjawab: “Tidak, aku (justru) mengarang kitab tentang jual beli. “Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat (tidak jelas halal dan haramnya) dan hal-hal yang makruh dalam berdagang.

وَكَذَلِكَ فِى سَائِرِ الْمُعَامَلَاتِ وَالْحِرَفِ، وكُلُّ مَنِ اشْتَغَلَ بِشَيْئٍ مِنْهَا يُفْتَرَضُ عَلضيْهِ عِلْمُ التَّحَرُّزِ عَنِ الْحَرَامِ فِيْهِ. وَكَذَلِكَ يُفْتَرَضُ عَلَيْهِ عِلْمُ أَحُوَالِ الْقَلْبِ مِنَ التَّوَكُّلِ وَالْإِنَابَةِ وَالْخَشْيَةِ وَالرِّضَى، فَإِنَّهُ وَاقِعٌ فِى جَمِيْعِ الْأَحْوَالِ.

Demikian pula orang Islam wajib mempelajari ilmu-ilmu yang mempelajari muamalah (aturan-aturan yang berhubungan dengan orang lain) dan berbagai pekerjaan. Setiap orang yang berkecimpung pada salah satu urusan-urusan tersebut harus mempelajari ilmu yang akan menghindarkannya dari perbuatan yang haram di dalamnya.

Setiap orang Islam juga harus mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hati, seperti tawakkal (pasrah atau tobat), takut (kepada murka Allah) dan ridha (rela atas apa yang ditakdirkan Allah padanya). Sebab semua itu dibutuhkan pada segala keadaan.

B. Keutamaan Ilmu

وَاقِعٌ فِى جَمِيْعِ الْأَحْوَالِ وَشَرَفُ الْعِلْمِ لَايَخْفَ عَلٰى أَحَدٍ إِذْ هُوَمُخْتَصٌّ بِالْإِنْسَانِيَّةِ لِأَنَّ جَمِيْعَ الْخِصَالِ سِوَى الْعِلْمِ، يَشْتَرِكُ فِيْهَا الْإِنْسَانُ وَسَائْرُ الْحَيَوَانَاتِ: كَالشُّجَاعَةِ وَالْجُرْأَةِ وَالْقُوَّةِ وَالْجُوْدِ وَالشَّفَقَةِ وَغَيْرِهَا سِوَى الْعِلْمِ.

Mengenai keutamaan (pentingnya) ilmu pengetahuan tidak ada seorangpun yang meragukan, karena ilmu merupakan sesuatu yang khusus diberikan manusia. Sebab segala hal selain ilmu itu bisa dimiliki manusia dan bisa juga dimiliki binatang, seperti keberanian, ketegasan, kekuatan, kedermawanan, kasih sayang dan sebagainya.

وَبِهِ أَظْهَرَهُ اللهِ تَعَالٰى فَضْلَ آدَمَ عَلَيْهِ السَلَامُ عَلَى الْمَلَائِكَةِ، وَأَمَرَهُمْ بِالسُّجُوْدِ لَهُ.

Dengan ilmu, Allah memperlihatkan keunggulan Nabi Adam as, atas para malaikat dan memerintahkan mereka agar bersujud kepada beliau.

وَإِنَّمَا شَرفُ الْعِلْمِلِكَوْنِهِ وَسِيْلَةً اِلَىالتَّقْوَى، اَلَّتِىْ يَسْتَحِقُّ بِهَا الْكَرَامَةَ عِنْدَ اللهِ تَعَالٰى، وَالسَّعَادَةَ والْأَبَدِيَةَ، كَمَا قِيْلَ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِبْنِ عَبْدُاللهِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ شَعْرٌا:

Sesunggunya mulianya ilmu itu karena kedudukannya menjadi wasilah (sarana) terhadap kebaikan dan taqwa, suatu hal yang membuat manusia berhak memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT dan kebahagiaan abadi, sebagaimana kata sair gubahan Syaikh Muhammad Ibnul Hasan bin Abdullah berikut:

تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ # وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّالْمُحَامِدِ

وَكُنْ مُسْتَفِيدًا كُلَّ يَّوْمٍ زِيَادَةً # مَنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِى بُحُوْرِ اْلفَوَائِدِ

تَفَقَّهْ فَإِنَّ اْلفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدَ # اِلَى اْلبِرِّ وَالتَّقْوٰى وَأَعْدَلُ قَاصِدِ

هُوَ اْلعَلَمُ اْلهَادِىْ اِلٰى سَنَنِ اْلهُدٰى # هُوَ اْلحِصْنُ يُنْجِىْ مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ

فَإِنَّ فَقِيهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا # أَشَدُّ عَلٰى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ

Belajarlah, karena ilmu akan menghiasi shlinya, Dia keunggulan, dia pula pertanda semua pujian. Carilah ilmu, agar setiap hari dapat tambahan. Dan berenanglah, ke tengan samudra pengetahuan. Belajarlah fiqih, dialah penglima unggulan, Menuju kebaikan dan taqwa. Dan dialah adilnya adil. Ia ilmu penunjuk ke jalan hidayah, Ia benteng penyelamat dari segala bencana. Seorang faqih wira’i, sungguh lebih berat, Setan menggodanya, Dibanding abid seribu

C. Ilmu Akhlaq

وَكَذَلِكَ فِى سَائِرِ الْأَخْلَاقِ نَحْوُ الْجُوْدِ، وَاْلبُخْلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْجُرْأَةِ. وَالتَّكَبُّرِ، وَالتَّوَاضُّعِ،وَالتَّوَاضُعِ، وَالْعِفَّةِ، وَالْإِسْرَافِ وَالتَّفْتِيْرِ وَغَيْرِهَا.

Demikian pula (wajib mempelajari) dalam bidang studi akhlak, semacam sifat dermawan, kikir, penakut, nekad, sombong, rendah diri, menjaga diri, berlebih-lebihan, terlalu irit dan sebagainya:

فَاِنَّ الْكِبْرِ وَاْلبُخْلِ وَالْجُبْنِوَالْإِسْرَافِ حَرَامٌ، وَلَايُمْكِنُ التَّحَرُّزُ عَنْهَا إِلَّا بِعِلْمِهَا، وَعِلْمِ مِا يُضَادُّهَا، فَيُفْتَرَضُ عَلٰى كُلِّ إِنْسَانٍ عِلْمُهَا.

Karena sifat sombong, kikir, penakut maupun berlebihhan itu haram hukumnya, dan tidak mungkin menghindari semua itu kecuali dengan mengetahui ilmunya dan ilmu antisipasinya; maka wajib bagi setiap orang untuk mempelajarinya.

وَقَدْ صَنَّفَ السَّيِّدُ الْإِمَامُ الْأَجَلُّالشَّهِيْدُ نَاصِرُ الدِّيْنِ أَبُوْ الْقَاسِمِ كِتَابًا فِى الْأَخْلَاقِ وَنِعْمَ مَا صَنَّفَ، فَيَجِبُ عَلٰى كُلِّ مُسْلِمٍ حِفْظُهَا.

Bahwa Imam Sayid yang Mulia Ustadz Nashiruddin Abul Qasim telah mengarang Kitab Akhlak alangkah amat bagus kitab ini dan karenanya wajib bagi setiap muslim menjaga akhlak di atas.

D. Ilmu Yang Fardhu Kifayah Dan Yang Haram Dipelajari

وَأَمَّا حِفْظُ مَا يَقَعُ فِى بَعْضِ الْأَحَايِيْنَ فَفَرْضٌعَلٰى سَبِيْلِ الْكِفَايَةِ، إِذَا قَامَبِهِ الْبَعْضٌ فِى بَلْدَةٍ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِيْنَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِى الْبَلْدَةِ مَنْ يَقُوْمُبِهِ اِشْتَرَكُوْا جَمِيْعًا فِى الْمَأْثِمِ،

Adapun mempelajari ilmu yang dibutuhkan pada saat-saat tertentu itu hukumnya Fardlu Kifayah; jika dalam suatu daerah telah terdapat orang yang mengetahuinya maka cukuplah bagi yang lain, tetapi kalau sama sekali tidak ada yang mengetahuinya maka seluruh penduduk menanggung dosa.

E. Pengertian Ilmu

 وَأَمَّا تَفْسِيْرُ اْلعِلْمِ فَهُوَ صِفَةٌ يَتَجَلَّى بِهَا الْمَذْكُوْرُ لِمَنْ قَامَتْ هِىَ بِهِ كَمَا هُوَ.

Ilmu dapat ditafsiri sbb: Kondisi sedemikian rupa yang jika dimiliki seseorang maka menjadi jelas apa yang diketahuinya.

وَالْفِقْهُ مَعْرِفَةَ دَقَائِقِ الْعِلْمِ

Fiqih adalah pengetahuan tentang detil-detil ilmu.

 قاَلَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ: الْفِقْهُ مَعْرِفَةُ النَّفْسِ مَا لَهَا وَمَا عَلَيْهَا.

Berkata Abu Hanifah, ra: “Fiqih adalah pengetahuan tentang hal yang berguna dan yang berbahaya bagi diri seseorang”.

وَقَالَ: مَا الْعِلْمُ إِلَّا لِلْعَمَلِ بِهِ، وَالْعَمَلُ بِهِ تَرْكُ الْعَاجِلِ لِلآجِلِ.

Kata beliau lagi “Tiada artinya suatu ilmu kecuali untuk diamalkan untuk diamalkan, sedang pengalaman ilmu berwujud meninggalkan orientasi duniawi demi ukhrawi.

 فَيَنْبَغِى لِلإِنْسَانِ أَنْ لَايَغْفُلَ عَنْ نَفْسِهِ، مَا يَنْفَعُهَا وَمَا يَضُرُّهَا، فِى أُوْلَهَا وَاُخْرَهَا، وَيَسْتَجْلِبَ مَا يَنْفَعُهَا وَيَجْتَنِبَ عَمَّا يَضُرُّهَا، كَيْ لَايَكُوْنَ عَقْلُهُ وَعَمَلُهُ حُجَّةً فَيَزْدَادُ عُقُوْبَةً، نَعُوْذُ بِاللهِ مَنْ سَخَطِهِ وَعِقَابِهِ.

Maka sebaikanya manusia jangan jangan lupa diri (lengah) dari hal apapun yang bermanfaat dan yang berbahaya di dunia dan akhiratnya, kemudian mengambil yang bermanfaat dan menghindari apa yang berbahaya baginya, agar kelak akal dan amal perbuatannya tidak menjadi hujjah (alasan) yang membebani sehingga memperberat siksa atas dirinya. Kami berlindung kepada Allah dari murka dan siksa-Nya.

وَقَدْ وَرَدَ فِى مَنَاقِبِ الْعِلْمِ وَفَضَائِلِهِ، آياتٌ وَأَخْبَارٌ صَحِيْحَةٌ مَشْهُوْرَةٌ.

Adalah banyak sekali ayat Al-Qur’an dan hadits shahih masyhur.

لَمْ نَشْتَغِلْ بِذِكْرِهَا كَىْ لَايَطُوْلَ الْكِتَّابُ.

Kami tidak ingin memaparkan di sini, agar kitab tidak terlalu tebal.

02: NIAT SAAT BELAJAR

فَصْلٌ فِى النِّيَّةِ فِى حَالِ التَعَلُّمِ

Niat Dalam Belajar.

A. Keutamaan Niat Belajar

 ثُمَّ لّابُدَّ لَهُ مِنَ النِّيَّةِ فِى زَمَانِ تَعَلُّمِ الْعِلْمِ، إِذَ النِّيَّةُ هِىَ الْأَصْلُ فِى جَمِيْعِ الأَفْعَالِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ السَّلَامَ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. (حديثٌ صَحيحُ.)

Penuntut ilmu wajib niat sewaktu belajar, sebab niat itu merupakan pokok dalam segala perbuatan, berdasarkan sabda Nabi SAW “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya” (Hadits shahih)

B. Niat Yang Baik Dan Yang Buruk

وَرُوِىَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: كَمْ مِنْ عَمَلِ يَتَصَوٌرُ بِصُوْرَةِ عَمَلِ الدُّنْيَا، ثُمَّ يَصِيْرُ بِحُسْنِ النِّيَّةِ مِنْ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ، وَكَمْ مِنْ عَمَلِ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَةِ عَمَلِ الْآخِرَةِ ثُمَّ يَصِيْرُ مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِّيَّةِ.

Dan diriwayatkan dari Rasulullah SAW bersabda: “Banyak amal perbuatan yang bentuknya perbuatan duniawi, kemudian menjadi amal ukhrawi karena bagus niatnya; dan tidak sedikit amal perbuatan yang bentuknya amal ukhrawi, kemudian menjadi perbuatan duniawi sebab buruk niatnya”

وَيَنْبَغِى أَنْ يَنْوِىَ الْمُتَعَلِّمُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ رِضَا اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ، وَإِزَالَةَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ، وَعَنْ سَائِرِ الْجُهَّالِ، وَإِحْيَاءَ الدِّيْنِ وَإِبْقَاءَ الْإِسْلَامِ، فَإِنَّ بَقَاءَ الْإِسْلَامِ بِالْعِلْمِ، وَلَايَصِحُّ الزُّهْدُ وَالتَّقْوَى مَعَ لْجَهْلِ.

Sebaiknya bagi penuntut ilmu dalam belajarnya berniat mencari ridho Allah, kebahagiaan akhirat, membasmi kebodohan diri sendiri dan sekalian orang-orang bodoh, mengembangkan agama dan mengabadikan Islam sebab keabadian islam itu harus diwujudkan dengan ilmu sedangkan berbuat zuhud dan taqwa itu tidak sah jika tanpa ilmu.

وَأَنْشَدَ الشَّيْخُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ اْلأَسْتَاذُ بُرْهَانُ الدِّيْنِ صَاحِبُ الْهِدَايَةِ شِعْرَا لِبَعْضِهِمْ:

Syaikh terhormat Ustadz Imam Burhanuddin Shahibul hidayah mendendangkan sair gubahan sebagian para ulama.

فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهِتكٌ وَأَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ هُمَا فِتْنَةٌ لِلْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ لِمَنْ بِهِمَا فِى دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

Hancur lebur orang alim tidak teratur lebih hancur orang jahil ibadah ngawur kedua-duanya fitnah besar menimpa alam semesta bagi orang yang menganutnya sebagai sebagai dasar agama.

وَيَنْوِىَ بِهِ الشُّكْرَ عَلَى نْعَمَةِ الْعَقْلِ، وَصِحَّةِ الْبَدَنِ, وَلَا يَنْوِىَ بِهِ إِقْبَالَ النَّاسِ عَلَيْهِ، وَلَا اَسْتِجْلَابُ حُطَامِ الدُّنْيَا، وَالْكَرَامَةَ عِنْدَ السُّلْطَانِ وَغَيْرِهِ.

Dan dalam menuntut ilmu hendaklah diniatkan juga untuk mensyukuri atas kenikmatan akal dan kesehatan badan hendaklah tidak niat mencari popularitas tidak untuk mencari harta dunia juga tidak niat mencari kehormatan dimata penguasa dan semacamnya.

 وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا: لَوْ كَانَ النَّاسُ كُلُّهُمْ عَبِيْدِى لِأَعْتَقْتُهُمْ وَتَبَرَأْتُ عَنْ وَلَائِهِمْ.

Berkata shaikh Muhammad Ibnu Hasan ra: “Andaikan seluruh manusia menjadi budakku niscahya saya merdekakan semuanya dan saya bebaskan penguasaan atas mereka.

 مَنْ وَجَدَ لَذَّةَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ بِهِ، قَلَمَا يَرْغَبُ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ.

(Demikian karena) barang siapa telah menemukan lezatnya ilmu dan pengamalannya maka kecil sekali kesukaannya terhadap apa yang ada di tangan sesama manusia.

أَنْشَدَنَا الشَّيْخُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ اْلأُسْتَاذُ قِوَامُ الدِّيْنِ حَمَّادُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ إِسْمَاعِيْلَ الصَّفَّارُ الْأَنْصَارِىُّ إِمْلَاءَ لِأَبِى حَنِيْفَةَ رَحْمَةُ اللهِ

Syaikh Imam yang mulia Al-Ustadz penegak penegak Agama Hammad bin Ibrahim bin Ismail As-shaffar Al Anshori mendendangkan kami sair gubahan Imam Abu Hanifah ra sbb:

 

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلمَعَادِ فَازَ بِفَضْلِ مِنَ الرَّشَادِ فَيَالِخُسْرَانِ طَالِبِيْهِ لِنَيْلِ فَضْلٍ مِنَ الْعِبَادِ

Barang siapa menuntut ilmu demi akhirat, Berbahagialah dengan keunggulan dari Ar Rasyad., Ah, betapa rugi penuntut ilmu, Demi sesuatu dari orang sesamamu.

اَللّٰهُمَّ إِلَّا إِذَا طَلَبَ الْجَاهَ لِلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْىِ عَنِ الْمُنْكَرِوَتَنْفِيْذِ الْحَقِّ وَإِعْزَازِ الدِّيْنِ٬ لَا لِنَفْسِهِ وَهَوَاهُ، فَيَجُوْزُ ذَلِكَ بِقَدْرِ مَا يُقِيْمُ بِهِ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْىِ عَنِ الْمُنْكَرِ.

Oh ya, kecuali jika mencari posisi dilakukan untuk amar ma’ruf nahi munkar, memperjuangkan kebenaran dan meluhurkan agama bukan untuk kepentingan hawa nafsu diri sendiri maka diperbolehkan sebatas telah dapat ber-amar ma’ruf nahi munkar tersebut.

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِى ذَلِكَ، فَإِنَّهُ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ بِجَهْدِ كَثِيْرٍ، فَلَايَصْرِفُهُ إِلَى الدُّنْيَا الْحَقِيْرَةِ الْقَلِيْلَةِ الْفَانِيَةِ شِعْرٌ:

Penuntut ilmu hendaklah memperhatikan hal-hal tersebut di atas, Mengingat ia telah belajar dengan susah payah, maka jangan sampai membelokkan ilmunya tersebut demi kepentingan duniawi yang hina, kecil lagi fana itu.

هِىَ الدُّنْيَا أَقِلُّ مِنَ الْقَلِيْلِ وَعَاشِقُهَا أَذَلُّ مِنَ الذًّلِيْلِ تُصِمُّ بِسِحْرِهَا قَوْمًا وَتُعْمِى فَهُمْ مُتحَيِّرُوْنَ بِلَا دَلِيْلِ

Berikut untaian sair:, Dunia itu kecil, amatlah sedikit, Pecintanya terhina, nan hina dina, Sihir dunia, membuat bangsa tuli dan buta,, Mereka bingung, tidak tahu jalan kemana.

C. Pantangan Bagi Orang Berilmu

وَيَنْبَغِى لِأَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ لَايُذِلَّ نَفْسَهُ بِالطَّمْعِ فِى غَيْرِ الْمَطْمَعِ وَيَحْتَرِزَ عَمَّا فَيْهِ مَذَّلَّةَ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ.

Orang berilmu hendaklah tidak mencemarkan dirinya sendiri dengan bersikap tamak terhadap sesuatu yang tidak semestinya, dan hendaknya pula menjaga diri dari hal-hal yang menghinakan ilmu dan oramg alim / ahli ilmu.

وَيَكُوْنُ مُتَوَاضِعًا، وَالتَوَاضُعُ بَيْنَ التَّكَبُّرِ والْمَذَلَّةِ، وَالْعِفَّةُ كَذَلِكَ، وَيُعْرَفُ  ذَلِكَ فِى كِتَابِ الْأَخْلَاقِ

Hendaklah bersikap tawadlu’ yaitu sikap tengah antara angkuh dan hina, demikian juga sikap iffah/perwira; dan semua itu dapat dipelajari dalam kitab-kitab akhlak.

أَنْشَدَنِى الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْأُسْتَاذُ رُكْنُ الدِّيْنِ الْمَعْرُوْفُ بِالْأَدِيْبِ الْمُخْتَارِ شَعْرَا لِنَفْسِهِ

Syaikh Imam Ustadz Ruknuddin yang terkenal dengan sebutan Sastrawan Pilihan mendendangkan sair gubahan beliau sendiri kepada kami sbb:

D. Saran Buat Para Pelajar

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يُحَصِّلَ كِتَابَ الْوَصِيَةِ الَّتِى كَتَبِهَا أَبُوْ حَنِيْفَةَ رضى الله عنه لِيُوْسُفَ بْنِ خَالِدِ السِّمْتِيِّ عِنْدَ الرُّجُوْعِ إِلَى أَهْلِهِ، يَجِدُهُ مَنْ يَطْلُبُهُ

Sebaiknya penuntut ilmu berhasil mendapatkan buku wasiat yang ditulis oleh Imam Abu Hanifah untuk Yusuf Bin Khalid As Simtiy ketika kembali pulang ke tengah keluarganya (di Basrah); buku ini didapatkan oleh orang yang mencarinaya

وَقَدْ كَانَ أَسْتَاذُنَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ بُرْهَانُ الأَئِمَّةِ عَلِيُّ بْنُ أَبِى بَكْرٍ قَدَّسَ الله رُوْحَهُ الْعَزِيْزَ أَمَرَنِى بِكِتَابَتِهِ عِنْدَ الْرُّجُوْعِ إِلَى بَلَدِى فَكَتْبَتَهُ.وَلَابُدَّ لِلْمُدَرِّسِ والْمُفْتِى فِى مُعَامَلَاتِ النَّاسِ مِنْهُ،

Dan adalah guru kami sendiri, Syaikhul Islam Burhanul Aimmah Ali Bin Abu Bakkar semoga Allah mensucikan ruhnya yang mulia memerintahkan kami di saat mau pulang kampung agar menulis buku Wasiat tersebut, dan kami melakukannya. Bagi para Guru dan Mufti (pemberi fatwa) bidang komunikasi sosial juga harus memegangi buku tersebut. Billahit Taufiq

03: MEMILIH ILMU, GURU, DAN TEMAN

فَصْلٌ فِى اخْتِيَارِ الْعِلْمِ وَالأُسْتَاذِ وَالشَّرِيْكِ وَالثَّبَاتِ

MEMILIH ILMU, GURU, DAN TEMAN

A. Memilih Ilmu

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَخْتَارَ مِنْ كُلِّ عِلْمِ أَحْسَنَهُ وَمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى أَمْرِ دِيْنِهِ فِى الْحَالِ،ثُمَّ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى الْمَآلِ

Penuntut ilmu hendaklah memilih yang terbagus dari setiap bidang ilmu, memilih ilmu apa yang diperlukan dalam urusan Agama di saat ini, kemudian apa yang diperukan di waktu nanti.

يُقَدِّمَ عِلْمَ التَّوْحِيْدِ٬وَيَعْرِفَ اللهَ تَعَالٰى بِالدَّلِيْلِ، فَإِنَّ إِيْمَانَ الْمُقَلِّدِ وَإِنْ كَانَ صَحِيحًا عِنْدَنَا لَكِنْ يَكُوْنُ آثِمًا بِتْرَكِ اْلإِسْتِدْلَالَِيَخْتَارَ الْعَتِيْقَ دُوْنَ الْمُحْدَثَاتِ، قَالُوا: عَلَيْكُمْ بِاْلعَتِيْقِ وَإِيَّاكُمْ بِالْمُحْدَثَاتِ

Hendaklah memprioritaskan ilmu tauhid dan mengenai Allah SWT berdasarkan dalil, karena iman secara taqlid – meskipun sah menurut madzhab kami namun tetap berdosa karena meniggalkan pemakain dalil.Dan hendaklah memilih ilmu kuna

قَالُوا: عَلَيْكُمْ بِاْلعَتِيْقِ وَإِيَّاكُمْ بِالْمُحْدَثَاتِ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَشْتَغِلَ بِهَذَا الْجِدَالِ الَّذِى ظَهَرَ بَعْدَ انْقِرَاضِ الْأَكَابِرِ مِنَ العُلَمَاءِ، فَإِنَّهُ يُبْعِدُ الطَّالِبَ عَنِ الْفِقْهِ وَيُضَيِّعُ الْعُمْرَ وَيُوْرِثُ الْوَحْشَةَ وَالْعَدَاوَةَ،  وَهُوَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ وَارْتِفَاعِ الْعِلْمِ وَالفِقْهِ،كَذَا وَرَدَ فِى الْحَدِيْثِ

bukan ilmu yang baru; para ulama’ berkata ‘tekunilah ilmu yang kuna dan jauhilah ilmu yang baru. Waspadalah, jangan terperangkap dalam ilmu perdebatan yang tumbuh subur setelah habisnya para ulama’ besar, karena ilmu tersebut akan menjauhkan pelajar dari fiqih, membuang-buang umur dan melahirkan sifat buas serta permusuhan. Fenomena, demikian termasuk tanda-tanda kiamat, hilangnya ilmu dan fiqih. Demikianlah menurut hadist Nabi.

B. Memilih Guru


أَمَّا اُخْتِيَارُ الْأُسْتَاذِ: فَيَنْبَغِى أَنْ يَخْتَارَ الْأَعْلَمَ وَالْأَوْرَعَ وَاْلأَسَنَّ، كَمَا اخْتَارَ أَبُو حَنِيْفَةَ، رضي الله عنه، حَمَّادَ بْنَ سُلَيْمَانَ رضي الله عنه، بَعْدَ التَّأَمُّلِ وَالتَّفَكُّيْرِ، قَالَ: وَجَدْتُهُ شَيْخًا وَقُورًا حَلِيْمًا صَبُورًا فِى الْأُمُوْرِ. وَقَالَ: ثَبِتُّ عِنْدَ حَمَّادِ بْنِ سُلَيْمَانَ فَنَبَتُ

Dalam hal milih Guru, hendaklah memilih siapa yang lebih alim, lebih waro’ dan lebih berusia, seperti halnya Iman Abu Hanifah menjatuhkan pilihannya pada Hammad Bin Sulaiman Setelah terlebih dahulu berfikir dan mempertimbangkan. Kata beliau “Saya menemukan beliau seorang Guru yang luhur santun dan penyabar di segala urusan,Dan katanya lagi “Saya menetap pada Syaikh Hammad bin Abu Sulaimana dan ternyata saya berkembang.

وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ: سَمِعْتُ حَكِيْمًا مِنْ حُكَمَاءِ سَمَرْقَنْدَ قَالَ: إِنَّ وَاحِدًا مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ شَاوَرَنِى فِى طَلَبِ الْعِلْمِ، وَكَانَ قَدْ عَزَمَ عَلٰى الذَّهَابِ إِلَى بُخَارَى لِطَلِبِ الْعِلْمِ وَهَكَذَا يَنْبَغِىْ أَنْ يُشَاوِرَ فِىْ كُلِّ أَمَرٍ، فَإِنَّ الله تَعَالٰى أَمَرَ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالمُشَاوَرَةِ فِىْ الْأُمُوْرِ وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَفْطَنَ مِنْهُ، وَمَعَ ذَلِكَ أُمِرَ بِالْمُشَاوَرَةِ، وَكَانَ يُشَاوِرُ أَصْحَابَهُ فِىْ جَمِيْعِ الْأُمُوْرِ حَتَّى حَوَاِئِجِ الْبَيْتِ.

Berkata Imam Abu Hanifah ra: Saya pernah mendengar seseorang Hakiim (ahli hikmah) dari Samarkand berkata ada seorang pelajar berembug (bermusyawarah) dengan saya tentang urusan  Belajar padahal ia telah bermaksud ke Bochara untuk belajar disana. Demikian dianjurkan untuk selalu bermusyawarah dalam segala urusan; sesungguhnya Allah swt memerintah Rasul-Nya saw agar bermusyawarah dalam segala urusan, padahal tiada orang yang lebih cerdas dibanding beliau –toh masih disuruh bermusyawarah-; maka dalam semua hal beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabat, hingga urusan rumah tangga.

قَالَ عَلِىْ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهْ: مَا هَلَكَ اَمْرُؤٌ عَنْ مَشُوْرَةٍ قِيْلَ: ’’رَجُلٌ وَنِصْفُ رَجُلٍ وَلاَ شَيْئَ فَالرَّجُلُ: مَنْ لَهُ رَأْيٌ صَاِئبٌ وَيُشَاوِرَ ، َونِصْفُ رَجُلٍ: مَنْ لَهُ رَأْيٌ صَائِبٌ لَكِنْ لَا يُشَاوِرُ، أَوْ يُشَاوِرُ وَلَكِنْ لاَ رَأْيَ لَهُ، وَلاَ شَيْئَ: مَنْ لَا رَأْيَ لَهُ وَلاَ يُشَاوِرُ.

Berkata Ali bin Abu Thalib, kw,: “Tidak akan hancur seseorang karena bermusyawarah” Ada dikatakan: “Orang sempurana, setengah orang dan orang tidak berarti; orang sempurna ialah yang memiliki pendapat benar dan mau musyawarah, setengah orang ialah yang memiliki pendapat benar tetapi tidak mau musyawarah atau yang mau musyawarah tetapi tidak punya pendapat, sedang orang tak berarti ialah orang yang tidak punya pendapat dan tidak mau juga mau musyawarah

وَقاَلَ جَعْفَرُ الصَّادِقُ لسُّفْيَانَ الثَّوْرِىِّ:” شَاوِرْ فِىْ أَمْرِكَ الَّذِيْنِ يَخْشُوْنَ اللهَ تَعَالٰى” فَطَلَبُ الْعِلْمِ مِنْ أَ عْلٰى اْلأُمُوْرِ وَأَصْعَبِهَا، فَكاَنَتِ الْمُشَاوَرَةُ فِيْهِ أَهَّمَ وَأَوْجَبَ

Syaikh ja’far As Shadiq bepesan kepada sufyan Ats Tsauri: “Musyawarahkanlah urursanmu dengan mereka yang takut kepada Allah ! Menuntut ilmu termasuk urusan yang mulya sekaligus sulit. Maka musyawarah diaini menjadi amat penting dan harus dilakukan

قَالَ الْحَكِيْمُ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ: إِذَا ذَهَبْتَ إِلَى بُخَارَى فَلَا تَعْجَلُ فِى اْلإِخْتِلَافِ إِلَى الأَئِمَّةِ وَامْكُثْ شَهْرَيْنِ حَتَى تَتَأَمَّلَ وَتَخْتَارَ أُسْتَاذًا، فَإِنَّكَ إِنْ ذَهَبْتَ إِلَى عَالِمٍ وَبَدَأْتَ بِالسَّبْقِ عِنْدَهُ فَرُبَّمَا لَا يُعْجِبُكَ دَرْسُهُ فَتَتْرُكَهُ فَتَذْهَبَ إِلَى آخَرَ، فَلَا يُبَارَكُ لَكَ فِى التَّعَلُّمِ فَتَأَمَّلْ فِى شَهْرَيْنِ فِى اخْتِيَارِ الأُسْتَاذِ، وَشَاوِرْ حَتَى لَا تَحْتَاجَ إِلَى تَرْكِهِ وَاْلاِعْرَاضِ عَنْهُ فَتَثْبُتَ عِنْدَهُ حَتَى يَكُوْنَ تَعَلُّمُكَ مُبَارَكًا وَتَنْتَفِعَ بِعِلْمِكَ كَثِيْرًا.

Seorang Ahli Hikmah ra berkata: “Bila anda pergi ke Bochara, maka janganlah tergesa melibatkan diri kedalam kontroversi para Imam. Tenanglah dua bulan, untuk berfikir guna memilih Guru. Karena jika anda menghadap seorang alim dan mulai belajar kepadanya, boleh jadi pelajarannya tidak menarik bagimu lalu kamu tinggalkan dan berpindah ke Guru lain, maka belajarmu tidak berkah. Maka renungkanlah dua bulan dalam memilih Guru, dan musyawarahkanlah agar kelak tidak perlu meninggalkan serta berpaling darinya; kemudian barulah menetap di hadapan Guru pilihan itu sehingga mendapat berkah ilmumu dan manfaat sebanyak-banyaknya.

C. Sabar Dan Tekun Dalam Belajar

وَاعْلَمْ بِأَنَّ الصَّبْرَ وَالثَّبَاتَ أَصْلٌ كَبِيْرٌ فِى جَمِيْعِ الْأُمُوْرِ وَلَكِنَّهُ عَزِيْزٌ، كَمَا قِيْلَ:

Ketahuilah, bahwa sabar dan tabah adalah pangkal yang besar untuk segala urusan, tetapi jarang yang melakukan. Seperti sair dikatakan Sebagai berikut:

لِكُلِّ إِلَى شَأْوِ الْعُلَى حَرَكَاتُ وَلَكِنْ عَزِيْزٌ فِى الرِّجَالِ ثَبَاتُ

Semua orang, berlomba menuju kemuliaan tetapi jarang yang punya ketabahan

 قِيْلَ: اَلشَّجَاعَةُ صَبْرُ سَاعَةِ.

Ada kata mutiara: “ Keberanian adalah sabar sejenak”

 فَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَثْبُتَ وَيَصْبِرَ عَلَٰى أُسْتَاذِ وَ عَلٰى كِتَّابِ حَتَّى لَا يَتْرُكَهُ أَبْتَرَ، وَ عَلٰى فَنِّ حَتَّى لَا يَشْتَغِلَ بِفَنٍّ آخَرَ قَبْلَ أَنْ يُتْقِنَ اْلأَوَّلَ، وَ عَلٰى بِلَدِ حَتَّى لَا يَنْتَقِلَ إِلَى بَلَدٍ آخَرَ مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ،  فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ يُفَرِّقُ الْأُمُوْرَ وَيُشْغِلُ الْقُلُوْبَ وَيُضَيِّعُ الأَوْقَاتَ وَيُؤْذِى الْمُعَلِّمَ.

Maka sebaiknya pelajar berhati tabah dan sabar dalam berguru; dalam mempelajari suatu kitab jangan ditinggalkan terbengkelai, dalam suatu bidang study jangan berpindah ke bidang lain sebelum yang pertama sempurna dipelajari, dan dalam daerah belajar jangan berpindan ke daerah lain kecuali karena terpaksa, Karena itu semua dapat mengacaukan urusan, mengganggu pikiran, membuang-buang waktu dan menyakiti sang guru.

وَيَنْبَغِى أَنْ يَصْبِرَ عَمَّا تُرِيْدُ نَفْسُهُ وَهَوَاهُ. قَالَ الشَّاعِرُ:

Dan pelajar hendaknya tabah dalam melawan kehendak hawa nafsunya; penyair berkata:

إِنَّ الْهَوَى لَهُوَ الْهَوَانْ بِعَيْنِهِ وَصَرِيْعُ كُلِّ هَوًى صَرِيْعُ هَوَانٍ

Hawa nafsu adalah wujudnya kehinaan, jajahan nafsu, adalah jajahan kehinaan

وَيَصْبِرَ عَلَى الْمِحَنِ وَالْبَلِيَّاتِ. قِيْلَ: خَزَائِنُ الْمُنَى، عَلَى قَنَاطِيْرِ الْمِحَنِ “. وَأُنشِدْتُ، وَقِيْلَ إِنَّهُ لِعَلِّى بْنِ أَبِى طَالِبِ

Hendaknya pula bersabar dalam menghadapi segala ujian dan bencana; ada kata mutiara: “Gudang-gudang harapan berada dalam rentetan ujian”. Sair didendangkan padaku, katanya sair tersebut gubahan Sy Ali Bin Abi Thalib:

ألآ لَاتَنَالُ الْعِلِم إِلَا بِسِتَّةِ سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانِ

Ah Tak mampu kau meraih ilmu, Tanpa dengan enam perilaku:

ذَكَاءِ وَحِرْصِ وَاصْطِبَارِ وَبُلْغَةِ وَإِرْشَادِ أُسْتَاذِ وَطُوْلِ زَمَانِ

Berikut saya jelaskan semua padamu.

Cerdas, semangat, sabar dan cukup sangu,

Ada piwulang guru dan sepanjang waktu.

D. Memilih Teman

وَأَمَّا اخْتِيَارُ الشَّرِيْكِ، فَيَنْبَغِى أَنْ يَخْتَارَ الْمُجِدَّ وَالْوَرَاعَ وَصَاحِبَ الطَّبْعِ الْمُسْتَقِيْمِ الْمُتَفَهِّمِ، وَيَفِرَّ مِنَ الْكَسْلَانِ وَالْمُعَطِّلِ وَالْمِكْثَارِ وَالْمُفْسِدُوَاْلفَتَّانِ

Mengenai teman belajar, hendaklah memilih orang yang tekun, wira’i, berwatak jujur dan mudah memahami masalah; hendaklah menjauh dari pemalas, pengangguran, suka cerawat, suka mengacau dan gemar menfitnah.

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَأَبْصِرْ قَرِيْنَهُ فَإِنَّ الْقَرِيْنَ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِى

Jangan kau bertanya “Bagaimana si fulan ?”,

Cukup kau tahu siapa kawannya ,

Karena setiap fulan pasti manut kawannya.

فَإِن كَانَ ذَا شِرٍّ فَجَنِّبْهُ سُرْعَةً وَإِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِى

Bila kawannya durhaka Maka jahuilah segera si fulan, Bila si kawan bagus budinyamMaka rangkulah fulan Bahagia buat anda

لَا تَصْحَبِ الْكَسْلَانَ فِى حَالَاتِهِ كَمْ صَالِحٍ بِفَسَادِ آخَرَ يَفْسُدُ

Jangan kau temani orang pemalas, hindarilah semua tingkahnya, Banyak orang saleh menjadi rusak, karena imbas dari orang lain.

 

عَدْوَى الْبَلِيْدِ إِلَى الْجَلِيْدِ سَرِيْعَةٌ كَالْجَمْرِ يُوْضَعُ فِى الرَّمَادِ فَيَخْمُدَ

Menjalar ketololan pada cendekia, amat cepat terlalu Laksana bara api, ia padam di atas abu.

قَالَ النَّبِى ﷺ: كُلُّ مَوْلُوْدِ يُوْلَدُ عَلٰى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ، إِلَّا أَنَّ أَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ. الحديث وَيُقَالُ فِى الْحِكْمَةِ بِالْفَارِسِيَّةِ:

Nabi saw bersabda: Semua bayi dilahirkan dalam fitrah (kesucian) islam, hanya saja kedua orang tuanya menjadikan dia yahudi, nasrani, atau majusi hadits. Dituturkan kata mutiara dalam bahasa persia:

بَارَبَدْ بَدْتَر بُوَدْ اَزْمَارِبَدْ بِحَقِّ ذَاتِ بَاكِ اللهِ الصَّمَدْ

Kawan yang jahat lebih berbahaya dibanding ular berbisa. Demi Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci

بَارِبَدْ اَرَدْ تَرْاَ سُوِى حَجِيْم بَارَ نِيْكُوْ كِيْرَ تَايَابِى نَعِيْمِ

Kawan yang jahat menyeretmu ke neraka Jahim, Ambillah kawan yang bagus, dia mengajakmu ke sorga Na’im

إِنْ كُنْتَ تَبْغِى الْعِلْمَ مِنْ أَهْلِهِ أَوْ شَاهِدًا يُخْبِرُ عَنْ غَائِبَ

Bila kau ingin mendapat ilmu dari ahlinya Atau ingin tahu gaib dan memberitakannya

فَاعْتَبِرِ الْأَرْضَ بِأَسْمَائِهَا وَاعْتَبِرِ الصَّاحِبَ بِالصَّاحِبِ

maka petiklah pelajaran tentang isi bumi dari namanya dan petiklah pelajaran tentang seseorang dari temannya.

04: MENGAGUNGKAN ILMU DAN AHLI ILMU


فَصْلٌ فِى تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ

Mengagungkan ilmu

A. Mengagungkan Ilmu

اِعْلَمْ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ.

Ketahuilah, bahwa pelajar tidak bakal mendapat ilmu dan tidak juga memetik manfaat ilmu selain dengan menghargai ilmu dan menghormat ahli ilmu (Ulama’). Menghormati guru dan memuliakannya;

قِيْلَ: مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ إِلَا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ إِلَا بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ.  وَقِيْلَ: اَلْحُرْمَةُ خَيْرٌ مِنَ الطَّاعَةِ، أَلَا تَرَى أَنَّ اْلإِنْسَانَ لَا يَكْفُرُ بِالْمَعْصِيَةِ، وَإِنَّمَا يَكْفُرُ بِاسْتِخْفَافِهَا وَبِتَرْكِ الْحُرْمَةِ.

Disebut kata mutiara: “Tiada keberhasilan seseorang dalam mencapai sesuatu kecuali dengan menghormatinya, dan tiada kegagalannya selain karena tidak mau menghormatinya”.  Disebut kata mutiara: “Penghormatan lebih penting dari pada ketaatan, bukankah engkau tahu bahwa manusia tidak menjadi kafir karena berbuat ma’siat, tapi bisa kafir karena meremehkan dan tidak menghormati”.

B. Memilih Guru

وَمِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ تَعْظِيْمُ اْلأُسْتَاذِ ٬قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهْ: أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِى حَرْفًا وَاحِدًا، إِنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ اَعْتَقَ وَ إِنْ شَاءَ اسْتَرَقَ. وَقَدْ أُنْشِدْتُ فِى ذَلِكَ

Salah satu cara memuliakan ilmu adalah memuliakan sang Guru, sebagaimana Sy Ali, Kw, berkata: “Saya menjadi hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf ilmu, terserah ia mau menjualku, memerdekakan atau tetap menjadikan aku sebagai hamba”.

Dalam hal tersebut, dinyanyikan sair kepadaku sebagai berikut:

رَأَيْتُ أَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمِ وَأَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمِ

Saya berpendapat, bahwa hak sang Guru  Adalah hak yang paling hakiki, Yang terwajib untuk dijaga oleh setiap muslim.

لَقَدْ حَقَّ أَنْ يُهْدَى إِلَيْهِ كَرَامَةً لِتَعْلِيْمِ حَرْفِ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمِ

Demi memuliakan, perlu dihadiahkan kepadanya Seribu dirham untuk satu huruf pelajarannya.

فَإِنَّ مَنْ عَلَّمَكَ حَرْفًا وَاحِدًا مِمَّا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى الدِّيْنِ فَهُوَ أَبُوْكَ فِى الدِّيْنِ. وَكَانَ أُسْتَاذُنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ سَدِيْدُ الدِّيْنِ الشَّيْرَازِيُّ يَقُوْلُ: قَالَ مَشَايِخُنَا مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُوْنَ ابْنُهُ عَالِمًا يَنْبَغِى أَنْ يُرَاعِىَ الْغُرَبَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ، وَيُكْرِمَهُمْ وَيُعَظِّمَهُمْ وَيُعْطِيَهُمْ شَيْئًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنِ ابْنُهُ عَالِمَا يَكُوْنَ حَافِدُهُ عَالِمًا.

Sesungguhnya orang yang mengajari kamu sepatah ilmu yang dibutuhkan dalam urusan agama adalah menjadi Bapakmu dalam beragama. Adalah Guru kami, Syaikh Imam Sadiduddin Asy Syairozi berkata: Para Guru kami berpesan: “Barang siapa ingin anaknya menjadi orang alim, maka dianjurkan suka berbakti kepada para fuqaha’ yang terasingkan, menghormati dan memuliakan serta menghaturkan sesuatu kepada mereka, jika ternyata anaknya tidak menjadi alim maka cucunya kelak.

وَمِنْ تَوْقِيْرِ الْمُعَلِّمِ أَنْ لَايَمْشِى أَمَامَهُ، وَلَا يَجْلِسُ مَكَانَهُ، وَلَا يَبْتَدِئَ الْكَلَامَ عِنْدَهُ إِلَا بِإِذْنِهِ، وَلَا يُكْثِرَ الْكَلَامَ عِنْدَهُ، وَلَا يَسْأَلَ شَيْئًا عِنْدَ مَلَالَتِهِ وَيُرَاعِىَ الْوَقْتَ، وَلَا يَدُقَّ الْبَابَ بَلْ يَصْبِرَ حَتَّى يَخْرُجَ الْأُسْتَاذُ

Di antara perbuatan menghormati Guru adalah tidak melintas di hadapannya, tidak menduduki tempat duduknya, tidak memulai berbicara kecuali atas izinnya, tidak banyak bicara di sebelahnya dan tidak menanyakan sesuatu yang membosankannya; hendaklah pula mengambil waktu yang tepat dan jangan pernah mengetuk pintu tetapi bersabarlah sampai beliau keluar.

فَالْحَاصِلُ: أّنَّهُ يَطْلُبُ رِضَاهُ، وَيَجْتَنِبُ سَخَطَهُ، وَيَمْتَثِلُ أَمْرَهُ فِى غَيْرِ مَعْصِيَةِ للهِ تَعَالٰى، فَإِنَّهُ لَا طَاعَةَ لِلْمَخْلُوْقِ فِى مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Pada pokoknya, adalah mencari ridlonya Guru, menghindarkan murkanya dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak melanggar ajaran agama, karena tidak diperbolehkan mentaati seseorang untuk mendurhakai Allah.

وَمِنْ تَوْقِيْرِهِ: تَوْقِيْرُ أَوْلَادِهِ وَمَنْ يَتَعَلَّقُ بِهِ. وَكَانَ أُسْتَاذُنَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ بُرْهَانُ الدِّيْنِ صَاحِبُ الْهِدَايَةِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ حَكَى: أَنَّ وَاحِدًا مِنْ أَكَابِرِ أَئِمَّةِ بُخَارَى كَانَ يَجْلِسُ مَجْلِسَ الدَّرْسِ، وَكَانَ يَقُوْمُ فِى خِلَالِ الدَّرْسِ أَحْيَانًا فَسَأَلُوْا عَنْهُ, فَقَالَ: إِنَّ ابْنَ أُسْتَاذِى يَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ فِى السِّكَّةِ، وَيَجِيْئُ أَحْيَانًا إِلَى بَابِ الْمَسْجِدِ، فَإِذَا رَأَيْتُهُ أَقُوْمُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِأُسْتَاذِى.

 Termasuk cara menghormati guru adalah menghormati anak-anaknya dan siapapun yang berkaitan dengannya. Adalah Guru kami, Syaikhul Islam Burhanuddin Shahibul Hidayah ra bercerita, bahwa seorang ulama’ besar di Bochara sedang duduk di majlis pengajian; di tengah pengajian itu terkadang ia berdiri, lalu orang-orang menanyakan hal demikian, dan jawabnya “Sebetulnya putrea Guruku lagi bermain bersama anak-anak di halaman, dan terkadang ia mendekat ke pintu masjid; maka setiap kali melihatnya akupun berdiri demi menghormati Guruku.

وَالْقَاضِى اْلإِمَامُ فَخْرُ الدِّيْنِ اْلأَرْسَابَنْدِىُّ كَانَ رَئِيْسَ اْلأَئِمَةِ فِى مَرْوَ وَكَانَ السُّلْطَانُ يَحْتَرِّمُهُ غَايَةَ اْلاِحْتِرَامِ وَكَانَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا وَجَدْتُ هَذَا الْمَنْصِبَ بِخِدْمَةِ اْلأُسْتَاذِ فَإِنِّى كُنْتُ أَخْدُمُ اْلأُسْتَاذَ الْقَاضِيَ اْلإِمَامَ أَبَا يَزِيْدَ الدَّبُّوسِىَّ وَكُنْتُ أَخْدُمُهُ وَأَطْبَخُ طَعَامَهُ ثَلَاثِيْنَ سَنَةً وَلَا آُكلُ مِنْهُ 

Qodli Imam Fakhrudin Al Arsyabandi ketua para imam di Marwah yang sangat dihormati oleh Sultan, pernah berkata:”Saya memperoleh kedududkan ini karena pengabdian kepada Guru bahwa saya mengabdi kepada Guruku Qodli Imam Abu Yazid Ad Dabbusi, berhikmah dan memasakkan makanan beliau selamatiga puluh tahun tanpa pernah ikut memakannya sedikitmu”

وَكَانَ الشَّيْخُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ شَمْسُ اْلأَئِمَّةِ اْلحُلْوَانِىُّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ قَدْ خَرَجَ مِنْ بُخَارَى وَسَكَنَ فِى بَعْضِ اْلقُرَى أَيَّامَا لِحَادِثَةِ وَقَعَتْ لَهُ وَقَدْ زَارَهُ تَلَامِيْذُهُ غَيْرَ الشَّيْخِ اْلإِمَامِ اْلقَاضِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الزَّرَتَجِىِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالٰى، فَقَالَ لَهُ  حِيْنَ لَقِيَهُ: لِمَاذَا لَمْ تَزُرْنِى؟ قَالَ: كُنْتُ مَشْغُوْلًا بِخِدْمَةِ الْوَلِدَةِ. قَالَ: تُرْزَقُ اْلعُمْرَ، وَلاَتُرْزَقُ رَوْنَقَ الدَّرْسِ وَكَانَ كَذَلِكَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَسْكُنُ فِى أَكْثِرُ أَوْقَاتِهِ فِى اْلقَرَى وَلَمْ يَنْتَظِمْ لَهُ الدَّرْسُ  فَمَنْ تَأَذَّى مِنْهُ أُسْتَاذُهُ يُحْرَمُ بَرَكَةُ اْلعِلْمِ وَلَا يَنْتَفِعُ بِالْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاَ.

Adalah Syaikh Imam yang Mulia Syamsul Aimmah Al Hulwani ra, karena suatu peristiwa beliau keluar dari Bochara untuk menempat di pekampungan selama beberapa hari banyak para murid yang mengunjungi beliau kecuali Syaikh Imam Abu Bakar bin Muhammad Az Zaranji ra, kretika keduanya bertemu maka Al Hulwani bertanya” Mengapa anda tidak mengunjungi aku? Jawab Az Zaranji “ Maafkan kami tengah merawat ibunda”, kata Al Hulwani kemudian “ Anda dianugrahi panjang umur tapi tidak mendapat buah manisnya pelajaran Dan akhir kejadiannya memang demikian sebagian besar hari-hari Az Zaranji habis di perkampungan sehingga kesulitan belajar lebih lanjut. Barangsiapa melukai hati gurunya, maka tertutuplah keberkahan ilmunya dan hanya sedikit manfaat ilmu yang dapat dipetiknya

Penyair berkata:

إِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيْبَ كِلَاهُمَا: لَا يَنْصَحَانِ إِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا

Sesungguhnya guru dan dokter, kedua-duanya Tidak bakalan mendiagnosa Jika tidak dihormati.

فَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَهَا:وَاْقِنَعْ بِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مَعَلِّمَا

Jika kau abaikan dokter, sabarkanlah penyakitmu, Jika kau abaikan guru, terimalah kebodohanmu

 

حُكِىَ أَنَّ اْلخَلِيْفَةَ هَارُوْنَ الرَشِيْدَ بَعَثَ ابْنَهُ إِلَى الأَصْمَعِىِّ لِيُعَلِّمَهُ اْلعِلْمَ وَاْلأَدَبَ فَرَآهُ يَوْمَا يَتَوَضَّأُ وَيَغْسِلُ رِجْلَهُ، وَابْنُ اْلخَلِيْفَةِ يَصُبُّ اْلمَاءَ عَلٰى رِجْلِهِ، فَعَاتَبَ اْلأَصْمَعِىُّ فِى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ: إِنَّمَا بَعَثْتُهُ إِلَيْكَ لِتُعَلِّمَهُ وَتُؤَدِّبَهُ فَلِمَاذَا لَمْ تَأْمُرْهُ بِأَنْ يَصُبَّ اْلمَاءَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ، وَيَغْسِلَ بِالأُخْرَى رِجْلَكَ؟

Satu hikayat: Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirimkan anaknya kepada Al-Ashma’i untuk belajar ilmu dan adab. Pada suatu hari, Khalifah melihat Al-Ashma’i sedang berwudlu dan membasuh sendiri kakinya, sedang si putera Khalifah cukup menuangkan airnya saja. Maka, Khalifah menegur hal itu dan katanya: “Anakku saya kirim kemari agar tuan mengajar dan mendidiknya mengapa tidak tuan perintahkan agar satu tangannya menuang air dan tangan satunya lagi membasuh kakimu?”

C. Memuliakan Kitab

وَ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ: تَعْظِيْمُ الكِتَابِ، فَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ لَا يَأْخُذَ الْكِتَابَ إِلَّا بِطَهَارَةِ.  وَحُكِيَ عَنِ الشَّيْخِ شَمْسِ اْلأَئِمَّةِ الْحُلْوَانِىِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالٰى أَنَّهُ قَالَ: إِنَّمَا نِلْتُ هَذَا اْلعِلْمَ بِالنَّعْظِيْمِ، فَإِنِّى مَا أَخَذْتُ اْلكَاغِدَ إِلَّا بِطَهَارَةِ

Salah satu ujud penghormatan terhadap ilmu adalah memuliakan kitab; karena itu dianjurkan bagi penuntut ilmu agar tidak mengambil kitab kecuali keadaan suci Hikayat bahwa Syaikh Syamsul Aimmah Al Hulnawi ra, pernah berkata: “Sesungguhnya saya berhasil mendapat ilmu ini adalah dengan penghormatan, kerena saya tidak pernah menyentuh kertas belajar selain dalam keadaan suci

وَأَنَّ الشَّيْخَ اْلإِمَامَ شَمْسَ اْلأَئِمَّةِ السَّرْخَسِيَّ كَانَ مَبْطُوْنَا فِى لَيْلَةٍ، وَكَانَّ يُكَرِّرُ، وَتَوَضَأَ فِى تِلْكَ الَّيْلَةِ سَبعَ عَشَرَةَ مَرَّةً لِأَنَّهُ كَانَ لَا يُكَرِّرُ إِلَّا بِالطَهَارَةِ،

Syaikh Imam Syamsul Aimmah As Sarkhasi ra, pernah sakit perut pada suatu malam dimana ia telah serius belajar, maka iapun wudlu berulang-ulang hingga 17 kali, karena ia tidak pernah belajar dalam keadaan suci 

 وَهَذَا لِأَنَّ اْلعِلْمَ نُوْرٌ وَالْوُضُوْءُ نُوْرٌ فَيَزْدَادُ نُوْرُ اْلِعِلْمِ بِهِ. وَمِنَ التَّعْظِيْمِ الْوَاجِبِ أَنْ لَا يَمُدَّ الرِّجْلَ إِلَى اْلكِتَابِ وَيَضَعَ كِتَابَ التَّفْسِيْرِ فَوْقَ سَائِرِ الْكُتُبِ تَعْظِيْمَا وَلَا شَيْئَا 

Di antara penghormatan wajib kepada kitab adalah jangan menjulurkan kaki kearah kitab, hendaklah meletakkan kitab tafsir di atas kitab yang lain dengan niat memuliakan, dan tidak meletakkan barang apapun di atas kitab.

وَكَانَ أَسْتَاذُنَا الشَّيْخُ بُرْهَانُ الدِّيْنِ رَحِمَهُ الله تَعَالَٰى يَحْكِى عَنْ شَيْخٍ مِنَ اْلمَشَابِخِ: أَنَّ  فَقِيْهًا كَانَ وَضَعَ اْلمِحْبَرَةَ عَلَى اْلكِتَابِ، فَقَالَ لَهُ بِالْفَارِسِيَّةِ: بُرْنَيَايِى وَكَانَ أُسْتَاذُنَا اْلقَاضِى اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ فَخْرُ الدِّيْنِ الْمَعْرُوْفُ بِقَاضِىخَانَ رَحِمَهُ اللهُ يَقُوْلُ: إِنْ لَمْ يُرِدْ بِذَلِكَ اْلاِسْتِخْفَافَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ وَاْلأَوْلَى أَنْ يَحْتَرِزَ عَنْهُ

Adalah Guru kami, Syaikh Burhanuddin ra, menyitir hikayat dari seorang Syaikh, bahwa pernah ada seorang faqih meletakkan botol tinta diatas kitab kemudian Syaikh itu mengingatkan dalam bahasa Persia” tidak berbuah ilmumu !” Guru kami yang lain, Qodli Imam Besar Fakhruddin yang populer dengan nama Qodli Khan ra, memberi komentar “Jika berbuat demikian itu tidak dimaksudkan meremehkan kitab maka tidak mengapa, meskipun lebih baik menghindarinya”

وَمِنَ التَّعْظِيْمِ: أَنْ يُجَوِّدَ كِتَابَةَ اْلكِتَابِ وَلَا يُقَرْمِطَ وَيَتْرُكَ اْلحَاشِيَةَ إِلَّا عِنْدَ الضَّرُوْرَةِ. وَرَأَى أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى كِتَابًا يُقَرْمِطُ فِى اْلكِتَابَةِ فَقَالَ: لَا تُقَرْمِطْ خَطَّكَ، إِنْ عِشْتَ تَنْدَمْ وَإِنْ مُتَّ تُشْتُمْ. يَعْنِى إِذَا شِخْتَ وَضْعُفَ نُوْرُ بَصَرِكَ نَدِمَتَّ عَلَى ذَلِكَ

Termasuk arti memuliakan kitab yaitu menulisnya sebagus mungkin, jangan coret-coret dan jangan pula membuat catatan-catatan yang mengamburka tulisan kitab, kecuali keadaan terpaksa. imam Abu Hanifah ra, pernah melihat seorang penulis yang tulisannya kacau, kemudian ujar beliau:’jangan bikin kacau tulisanmu, jika kau masih hidup akan menyesal dan jika mati akan dimaki”; maksudnya jika kau tua dan matamu rabun maka akan menyesal sendiri”.

وَحُكِىَ عَنِ الشَّيْخِ اْلإِمَامِ مَجْدِ الدِّيْنِ الصَّرْحَكِىِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَٰى اَنَّهُ قَالَ: مَا قَرْمَطْنَا نَدِمْنَا، وَمَا انْتَخَبْنَا نَدِمْنَا، وَمَا لَمْ نُقَابِلْ نَدِمْنَا

Diceritakan dari Syaikhul Islam Muhammad Majduddin Ash Sharhaki ra, berkata: “kami menyesali tulisan kami yang kacau,catatan kami yang tidak lengkap dan pengetahuan kami yang tidak komprehensif”.

وَيَنْبَغِى أَنْ يَكُوْنَ تَقْطِيْعُ اْلكِتَابِ مُرَبَّعَا، فَإِنَّهُ تَقْطِيْعُ أَبِى حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَٰى، وَهُوَ أَيْسَرُ عَلَى الرَّفْعِ وَاْلوَضْعِ وَاْلمُطَالَعَةِ وَيَنْبَغِى أَنْ لَا يَكُوْنَ فِى اْلكِتَابَةِ شَيْئٌ مِنَ اْلحُمْرَةِ، فَإِنَّهُ مِنْ صَنِيْعِ اْلفَلَاسِفَةِ لَا صَنِيْعِ السَّلَفِ، وَمِنْ مَشَايِخِنَا كَرِهُوْا اسْتِعْمَالَ الْمَرْكَبِ اْلأَحْمَرِ.

Dianjurkan hendaklah format kitab itu persegi empat, sebagaimana kitab Abu Hanifah ra, karena format demikian lebih memudahkan untuk mengambil, meletakkan dan mengkajinya. Sebaiknya pula tidak ada warna merah dalam kitab, karena merah itu warna filosof dan bukan warna (simbol) ulama’ salaf, bahkan ada sebagian dari guru kami yang tidak terkenal naik.

D. Menghormati Teman

وَمِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ: تَعْظِيْمُ الشُّرَكَاءِ فِى وَمَنْ يَتَعَلَمُ مِنْهُ . وَالتَّمَلُّقُ مَذْمُوْمٌ إِلاَّ فِى طَلَبِ اْلعِلْمِ.  فَإِنَّهُ يَنْبَغِى أَنْ يَتَمَلَّقَ لِأُسْتَاذِهِ وَشُرَكَائِهِ لِيَسْفِيْدَ مِنْهُمْ

Salah satu cara memuliakan ilmu, adalah menghormati teman belajar dan Guru yang mengajar;  Berkasih sayang itu perbuatan tercelah kecuali dalam rangka kecuali dalam rangka mencari ilmu ?”  Karena itu murid dianjurkan berkasih mesra dengan Guru dan teman-teman sebangku pelajarannya agar dengan mudah mendapat pengetahuan dari mereka.

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ اْلعِلْمِ أَنْ يَسْتَمِعَ اْلعِلْمَ وَاْلحِكْمَةَ بِالتَّعْظِيْمِ وَاْلحُرْمَةِ، وَإِنْ سَمِعَ مَسْأَلَةً وَاحِدَةً أَوْ حِكْمَةً وَاحِدَةً أَلْفَ مَرَّةِ . وَقِيْلَ: مَنْ لَمْ يَكُنْ تَعْظِيْمُهُ بَعْدَ أَلْفِ مَرَّةِ كَتَعْظِيْمِهِ فِى أَوَّلِ مَرَّةٍ فَلَيْسَ بِأَهْلِ اْلعِلْمِ.

Dianjurkan kepada penuntut ilmu agar memperhatikan seluruh ilmu dan hikmah dengan penuh ta’dhim serta hormat meskipun telah seribu kali ia mendengar keterangan dan hikmah yang itu-itu juga. Ada dikatakan:”Barangsiapa ta’dhimnya setelah seribu kali berulang tidak seperti ta’dhimnya yang pertama kali maka dia bukan ahli ilmu”.

E. Jangan Memilih Ilmu Sendiri

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ اْلعِلْمِ أَنْ لَا يَخْتَارَ نَوْعَ اْلعِلْمِ بِنَفْسِهِ، بَلْ يُفَوِّضَ أَمْرَهُ إِلَى اْلأُسْتَاذَ، فَإِنَّ الأُسْتَاذَ قَدْ حَصَلَ لَهُ التَّجَارُبُ فِى ذَلِكَ، فَكَانَ أَعْرَفَ بِمَا يَنْبَغِى لِكُلِّ وَاحِدٍ وَمَا يَلِيْقُ بِطَبِيْعَتِهِ

Dianjurkan kepada penuntut ilmu agar tidak memilih sendiri bidang studinya, tetapi menyerahkan hal itu sepenuhnya kepada Guru; demikianlah , karena Guru telah sering melakukan uji coba sehingga lebih tahu tentang apa yang terbagus untuk seorang dan sesuai dengan bakatnya.

وَكَانَ الشّيْخُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ اْلأُسْتَاذُ بُرْهَانُ اْلحَقُّ وَالدِّيْنِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ: كَانَ طَلَبَةُ اْلعِلْمِ فِى الزَّمَانِ اْلأَوَّلِ يُفَوِّضُوْنَ أَمْرَهُمْ فِى التَّعَلُّمِ إِلَى اَسَاتِذِهِمْ وَكَانُوْا يَصِلُوْنَ اِلَى مَقْصُوْدِهِمْ وَمُرَادِهِمْ، وَاْلآنَ يَخْتَارُوْنَ بِأَنْفسِهِمْ، فَلَا يَحْصُلُ مَقْصُوْدُهُمْ مِنَ اْلعِلْمِ وَاْلفِقهِ.

Berkata Syaikhul Islam Imam yang mulia Ustadz Burhanul Haq wad din: “Para penuntut ilmu di zaman dulu menyerahkan urusan belajar kepada Guru dan ternyata sukses dalam mencapai target dan tujuan mereka, tetapi zaman sekarang memilih sendiri bidang studi mereka dan akhirnya gagal mendapatkan ilmu dan fiqih”

وَكَانَ يُحْكَى أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيْلَ اْلبُخَارِىِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالٰى كَانَ بَدَأَ بِكِتِابَةِ الصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ اْلحَسَنِ رَحِمَهُ اللهُ، فَقَالَ لَهُ مُحَمَّدُ بْنُ اْلحَسَنُ: إِذْهَبْ وَتَعَلَّمْ عِلْمَ اَلْحَدِيْثِ، لِمَا رَأَى أَنَّ ذَلِكَ اْلعِلْمَ أَلْيَقُ بِطَبْعِهِ، فَطَلَبَ عِلْمَ اْلحَدِيْثِ فَصَارَ فِيْهِ مُقَدَّمَا عَلَى جَمِيْعِ أَئِمَّةِ اْلحَدِيْثِ

Kikayat pada mulanya Muhammad bin isma’il Al bukhari ra, belajar mencatat pelajaran shalat kepada Syaikh Muhammad Ibnu Hasan ra, kemudian beliau memerintahkan “Silahkan pergi belajar ilmu hadits” setelah Ibunu Hasan melihat bidang studi tersebut lebih pas dengan bakatnya; kemudian Al Bukhari pergi belajar ilmu hadits dan akhirnya menjadi Imam hadits yang paling termuka.

 وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ اْلعِلْمِ أَنْ لَايَجْلِسَ قَرِيْبًا مِنَ اْلأُسْتَاذِ عِنْدَ السَّبْقِ بِغَيْرِ ضَرُوْرَةِ بَلْ يَنْبَغِى أَنْ يِكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اْلأُسْتَاذِ قَدْرَ اْلقَوْسِ فَإِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى التَّعْظِيْمِ.

Dianjurkan kepada penuntut ilmu agar diwaktu belajar jangan duduk terlalu dekat dengan Guru, kecuali keadaan terpaksa. Tetapi hendaklah mengambil jarak antara keduanya sejauh busur panah, karena posisi demikian itu lebih menghormati.

F. Menghindari Akhlaq Tercela

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ اْلعِلْمِ أَنْ يَحْتَرِزَ عَنِ اْلأَخْلَاقِ الذَّمِيْمَةِ، فَإِنَّهَا كِلَابٌ مَعْنَوِيَّةٌ، وَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لَا تَدْخُلُ اْلمَلَائِكَةُ بَيْتَا فِيْهِ كَلْبٌ أَوْ صُوْرَةٌ. وَإِنَّمَا يَتَعَلَّمُ  اْلإِنْسَانُ بِوَاسِطَةِ اْلمَلَكِ  وَاْلأَخْلَاقُ الذَّمِيْمَةُ تُعْرَفُ فِى كِتَابِ اْلأَخْلَاقِ وَكِتَابُنَا هَذَا لَا يَحْتَمِلُ بَيَانَهَا (وَلْيَحْتَرِزْ) خُصُوْصًا عَنِ التَّكَبُّرِ وَمَعَ التَّكَبُّرِ لَا يَحْصُلُ اْلعِلْمُ

Dianjurkan kepada pencari ilmu hendaklah menghindari akhlak yang tercela karena hal itu ibarat anjing padahal Nabi Saw bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di situ terdapat patung atau anjing, sedang manusia belajar dengan perantara malaikat.. Mengenai akhlak tercela itu sendiri dapat dipelajari dari kitab akhlak, sedang kitab ta’limul muta’allim ini tidak memuat pelajaran tersebut, Khususnya yang harus diantisipasi adalah sikap sombong karena dengan sombong itu maka tidak akan memperoleh ilmu.

اَلْعِلْمٌ حَرْبٌ لْلمُتَعَا لِى كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لْلمَكَانِ اْلعَالِى

Ilmu itu musuh bagi orang yang sombong Laksana banjir juga musuh dataran tinggi

05: KESERIUSAN, KETETAPAN DAN CITA-CITA LUHUR

 

فَصْلٌ فِى اْلجِدِّ وَاْلمُوَاظَبَةِ وَاْلهِمَّةِ

KESERIUSAN, KETETAPAN DAN CITA-CITA LUHUR

A. Kesungguhan Hati (Ketekunan)

ثُمَّ لَا بُدَّ مِنَ اْلجِدِّ وَاْلمُوَاظَبَةِ وَاْلمُلَازَمَةِ لِطَالِبِ اْلعِلْمِ، وَإِلَيْهِ اْلإِشَارَةُ فِى اْلقُرْآنِ بِقَوْلِهِ تَعَالٰى: وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَقِيَل:بِجَدٍّلاَبِجَدٍّكُلُّ مَجْدِ فَهَلْ جَدٌّبِلَاجِدٍّ بِمَجْدِى فَكَمْ عَبْدٍ يَقُوْمُ مَقَامَ حُرٍّ وَكَمْ حُرٍّ يَقُوْمُ مَقَامَ عَبْدٍ وَقِيَل: مَنْ طَلَبَ شَيْأً وَجَدَّ وَجَدَ، وَمَنْ قَرَعَ اْلبَابَ وَلَجَّ وَلَجَ.

Kemudian penuntut ilmu juga harus bersungguh hati dan terus menerus demikian; Seperti itulah petunjuk Allah dalam firman-Nya:” Dan mereka yang berjuang untuk (mencari keridhoan) Kami niscaya akan kami tunjukkan kepada mereka kepada jalan kami..”

Sair didendangkan:

Diraih keagungan dengan kesungguhan

Bukan semata dengan kebesaran

Bisakan keagungan didapat

Dengan kebesaran, tanpa dengan semangat?

Banyak hamba menyandang pangkat merdeka

Banyak orang merdeka berpangkat hamba sahaya.

Ada kata mutiara: “Siapa bersunggu hati mencari sesuatu, pastilah ketemu dan siapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pastilah memasuki”

 

 وَقِيْلَ: بِقَدْرِمَا تَتَعَنَّى تَنَالُ مَا تَتَمَنَّى. وَقِيْلَ: يُحْتَاجُ فِى التَّعَلُّمِ وَالتّفَقُّهِ إِلَى جِدِّ ثَلَاثَةِ: اْلمُتَعَلِّمِ، وَاْلأُسْتَاذِ، وَاْلأَبِ، إِنْ كَانَ فِي اْلاَحْيَاءِ أَنْشَدَنِى الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْأَجَلُّ الْأُسْتَاذُ سَدِيْدُ الدِّيْنِ الشَّيْرَازِىُّ لِلشَّافِعِىِّ

Dikatakan lagi: “Sejauh mana kepayahanmu sekian pula tercapai harapanmu”  Dan dikatakan: “Dalam urusan belajar ilmu dan fiqih diperlukan kesungguhan tiga pihak, yaitu pihak pelajar sendiri, guru, dan bapak jika masih hidup” Sair gubahan Asy Syafi’i di dendangkan oleh Syaikh Imam yang mulia Sadiduddin Asy Syairazi, ra, kepadaku:

اَلْجِدُّ يُدْنِى كُلَّ أَمْرِ شَاسِعٍ وَالْجِدُّ يَفْتَحُ كُلَّ بَابِ مُغْلَقٍ

Dengan kesungguhan, perkara jauh menjadi dekat, Pintu terkunci menjadi terbuka.

وَأَحَقُّ خَلْقِ اللهِ بِالْهَمِّ امْرُؤٌ ذُوْ هِمَّةِ يُبْلَى بِعَيْشٍ ضَيِّقٍ

Titah Allah yang paling berhak bilang sengsara,  Orang bercita tinggi namun hidupnya miskin papa.

وَمِنَ الدَّلِيْلِ عَلَى الْقَضَاءِ وَحُكْمِهِ بُؤْسُ الْلَبِيْبِ وَطِيْبُ عَيْشِ الْأَحْمَقِ

Salah satu bukti qadla dan hukum Allah, Orang pandai hidupnya susah dan si bodoh hidupnya mewah.

لَكِنَّ مَنْ رُزِقَ الْحِجَا حُرِمَ الْغِنَى ضِدَّانِ يَفْتَرِقَانِ أَىَّ تَفَرُّقِ

Orang diberi akal tapi tidak diberi harta, Dua anugrah yang berbeda, satu di sini satu di sana.

وَأُنْشِدُّتُ لِغَيْرِهِ: تَمَنَيْتَ أَنْ تُمْسِيَ فَقِيْهَا مُنَا ظِرًا بِغَيْرِ عَنَاءٍ وَالْجُنُوْنُ فُنُوْنُ

Sair gubahan orang lain dinyanyikan kepadaku: Kau berharap menjadi faqih analis, Padahal tidak sanggup bekerja keras,

وَلَيْسَ اكْتِسَابُ الْمَالِ دُوْنَ مَشَقَّةٍ تَحَمَّلُهَا فَالْعِلْمُ كَيْفَ يَكُوْنُ

Memang penyakit gila banyak macamnya,  Tidak bakal memboyong harta, Tanpa sanggup memikul derita, Ilmu-pun begitu pula.

قَالَ أَبُوْ اطَّيِّبِ الْمُتَنَبِّي:وَلَمْ أَرَ فِي عُيُوْبِ النَّاسِ عَيْبًا كَنَقْصِ الْقَادِرِيْنَ عَلَ التَّمَامِ

Berkata Abu Thayib Al Mutanabbi: Tidak kulihat aib orang sebagai cela, Bagaikan orang punya kuasa Tapi tidak memenuhi apa mestinya.

وَلَا بُدَّ لِطَلِبِ الْعِلْمِ مِنْ سَهَرِ الْلَيَالِي كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ:

Penuntut ilmu juga harus sanggup tidak tidur bermalam-malam, seperti penyair berkata:

بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَلِي وَمَنْ طَلَبَ الْعُلَى سَهِرَ الْلَيَالِى

Seukur kesulitannya, akan dicapai kemuliaan; Siapa ingin mulia, hendaklah berjaga semalaman.

تَرُمُ الْعِزَّ ثُمَّ تَنَامُ لَيْلًا يَغُوْ صُ الْبَحْرَ مَنْ طَلَبَ الَّلآلِى

Kau ingin mulia, tapi tidur di malam hari, Orang mencari mutiara, lautpun diselami.

 

عُلُوُّ الْكَعْبِ بِالْهِمَمِ الْعَوَالِى وَعِزُّ الْمَرْءِ فِي سَهَرِ الْلَيَالِى

Keluhuran derajat itu dengan himmah yang tinggi Keluhuran seseorang dengan berjaga di malam hari,

 

تَرَكْتُ النَّوْمَ رَبِّي فِي الْلَيَلِى لِأَجْلِ رِضَاكَ يَامَوْلَى الْمَوَالِى

Oh Tuhan, aku singkirkan tidur di malam hari, Demi ridlomu, ya Maulal Mawali.

وَمَنْ رَامَ الْعُلَى مِنْ غَيْرِ كَدِّ أَضَاعَ الْعُمْرَ فِي طَلَبِ الْمُحَالِى

Siapa menghendaki mulia tanpa mau kesulitan, Mengulur umur untuk mencapai kemustahilan.

  

فَوَفِقْنِى إِلَى تَحْصِيْلِ عِلْمٍ وَبَلِغْنِى إِلَى أَقْصَى الْمَعَالِى

Tolonglah kami untuk mendapat ilmu, Dan bimbingiah kami pada kemuliaan di sisi-Mu.

                                                          

قِيْلَ: اِتَّخِذِ الْلَيْلَ جَمَلًا تُدْرِكْ بِهِ أَمِلًا قَالَ الْمُصَنِّفُ وَقَدِ اتَّفَقَ لِى َنظْمٌ فِي هَذَا الْمَعْنَى:

Respon pengarang kitab “Saya menggubah pantun semakna”, yaitu:

مَنْ شَاءَ أَنْ يَحْتَوِىَ آمَالَهُ جُمَلًا فَلْيَتَّخِذُ لَيْلَهُ فِى دَرْكِهَا جَمَلًا

Siapa mau seluruh obsesinya tercapai,,jadikanlah malam hari kendaraan untuk mencapai.

إَقْلِلْ طَعَامَكَ كَىْ تَحْظَى بِهِ سَهَرًا إِنْ شِئْتَ يَا صَاحِبِى أَنْ تَبْلُغَ الْكَمَلَا

Kurangilah makan, agar sanggup berjaga, bila shahabat idamkan, capaian sempurna,

وَقِيْلَ: مَنْ أَسْهَرَ يَفْسَهُ بِالْلَيْلِ فَقَدْ فَرِحَ قَلْبُهُ بِالنَّهَارِ.

Kata mutiara disebutkan: “Barang siapa tidak tidur di malam hari, maka bahagia di siang hari”.

B. Kontinuitas Dan Mengulangi Pelajaran

وَلَا يُجْهِدَ نَفْسَهُ جُهْدًا، وَلَا يُضْعِفَ النَّفْسَ حَتَّى يَنْقَطِعَ عَنِ الْعَمَلِ، بَلْ يَسْتَعْمِلَ الرِّفْقَ فِى ذَلِكَ؛ والرِّفْقُ أَصْلٌ عَظِيْمٌ فِى جَمْيْعِ اْلأَشْيَاءِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “أَلَا إِنَّ هَذَا الدِّيْنَ مَتِيْنٌ فَأَوْغِلُوا فِيْهِ بِرِفْقٍ, وَلَاتُبْغِضْ عَلىَ نَفْسِكَ عِبَادَةَ اللهِ تَعَالَ، فَإِنَّ الْمُنْبِتَّ لَا أَرْضًا قَطَعَ وَلَا ظَهْرًا أَبْقَىى”.

Meski demikian, hendaklah tidak menforsir diri, tidak membuat dirinya lunglai sampai tidak kuat berbuat sesuatu, tapi hendaklah tetap menyantuni (menyayangi) diri sendiri;-.

Sikap santun adalah pangkal segala hal, sebagaimana Nabi Saw bersabda: “Sadarlah, bahwa Islam ini agama yang kokoh, maka perlakukanlah dirimu dengan santun dan jangan kamu perbuat ibadah kepada Allah untuk menyengsarakan dirimu; karena orang yang munbit (=loyo dan ditinggal kendaraan)82 itu tidak sanggup lagi menerjang bumi dan tiada pula kendaraannya”.

C. Menyantuni Diri

وَلَا يُجْهِدَ نَفْسَهُ جُهْدًا، وَلَا يُضْعِفَ النَّفْسَ حَتَّى يَنْقَطِعَ عَنِ الْعَمَلِ، بَلْ يَسْتَعْمِلَ الرِّفْقَ فِى ذَلِكَ؛ والرِّفْقُ أَصْلٌ عَظِيْمٌ فِى جَمْيْعِ اْلأَشْيَاءِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “أَلَا إِنَّ هَذَا الدِّيْنَ مَتِيْنٌ فَأَوْغِلُوا فِيْهِ بِرِفْقٍ, وَلَاتُبْغِضْ عَلىَ نَفْسِكَ عِبَادَةَ اللهِ تَعَالَ، فَإِنَّ الْمُنْبِتَّ لَا أَرْضًا قَطَعَ وَلَا ظَهْرًا أَبْقَىى”.

Meski demikian, hendaklah tidak menforsir diri, tidak membuat dirinya lunglai sampai tidak kuat berbuat sesuatu, tapi hendaklah tetap menyantuni (menyayangi) diri sendiri;-. 

Sikap santun adalah pangkal segala hal, sebagaimana Nabi Saw bersabda: “Sadarlah, bahwa Islam ini agama yang kokoh, maka perlakukanlah dirimu dengan santun dan jangan kamu perbuat ibadah kepada Allah untuk menyengsarakan dirimu; karena orang yang munbit (=loyo dan ditinggal kendaraan)82 itu tidak sanggup lagi menerjang bumi dan tiada pula kendaraannya”.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “نَفْسُكَ مَطِيَّتُكَ فَارْفُقْ بِهَا”.

Nabi SAW bersabda: “Dirimu adalah kendaraanmu, maka perlakukanlah dengan santun”.

D. Cita-Cita Luhur

فَلَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَالِيَةِ فِى الْعَمَلِ، فَإِنَّ الْمَرْءَ يَطِيْرُ بِهِمَّتِهِ كَالطَّيْرِ يَطِيْرُ بِجِنِاحَيْهِ. وَقَالَ أَبُوْ الطَّيِّبِ رَحِمَهُ الله تَعَلَى:

Penuntut ilmu harus bercita-cita tinggi dalam berilmu, karena manusia akan terbang dengan cita-citanya sebagaimana burung terbang dengan sayapnya.

Berkata Abu Thayib, ra:

 

Berkata Abu Thayib, ra:

Cita-cita akan terwujud seukur greget obsesinya,

kemuliaan akan terwujud seukur greget cita mulianya.

وَتَعْظُمُ فِى عَيْنِ الصَّغِيْرِ صِغَارُهَا وَتَصْغُرُ فِى عَيْنِ الْعَظِيْمِ الْعَظَائِمُ

Barang kecil tampaknya besar, di mata orang yang kecil citanya, Barang besar tampaknya kecil, di mata orang yang besar citanya.

وَالرَّأْسُ فِى تَحْصِيْلِ الْأَشْيَاءِ الْجِدُّ وَالْهِمَّةُ الْعَالِيَةُ، فَمَنْ كَانَتْ هِمَّتُهُ حِفْظَ جَمِيْعِ كُتُبِ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، وَاقْتَرَنَ بِذَلِكَ الْجِدَّ وَالْمُوَاظَبَةَ، فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَحْفَظُ أَكْثَرَهَا أَوْ نِصْفَهَا, فَأَمَّا إِذَا كَانَتْ لَهُ هِمَّةٌ عَالِيَةٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ جِدٌّ، أَوْ كَانَ لَهٌ جِدٌّ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ هِمَّةٌ عَالِيَةٌ لَا يَحْصُلُ لَهُ إِلَّا الْعِلْمٌ قَلْيْلٌا.

Pangkal sukses adalah kesungguhan dan cita-cita yang tinggi; barang siapa bercita-cita menghafal seluruh kitab Muhammad ibnul Hasan, dan disertai kesungguhan yang tidak kenal berhenti, maka secara lahir diapun akan berhasil menghafal sebahagian besar atau setengahnya;-

Dan sebaliknya, jika bercita-cita tinggi tetapi tiada kesungguhan, atau berkesungguhan tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka ilmu yang diperoleh hanya sedikit.

وَذَكَرَ الشَّيْخُ الْاِمَامُ الْأَجَلُّ الْأُسْتَاذُ رَضِيُّ الدِّيْنِ النِّيْسَابُوْرِيُّ فِى كِتَابِ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ أَنَّ ذَا الْقَرْنَيْنِ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يُسَافِرَ لِيَسْتَوْلِىَ عَلَى الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ شَاوَرَ الْحُكَمَاءَ وَقَالَ: كَيْفَ أُسَافِرُ بِهَذَا الْقَدْرِ مِنَ الْمُلْكِ، فَإِنَّ الدُّنْيَا قَلِيْلَةٌ فَانِيَةٌ وَمُلْكُ الدُّنْيَا أَمْرٌ حَقِيْرٌ، فَلَيْسَ هَذَا مِنْ عُلُوْ الْهِمَّةِ. فَقَالَ الْحُكَمَاءٌ: سَافِرْ لِيَحْصُلَ لَكَ مُلْكُ الدِّيْنِ وَالْآخِرَةِ. “فَقَالَ: هَذَا أَحْسَنُ

Syaikh Imam yang mulia Ustadz Radliyuddin An Naisaburi, dalam kitab Makarimul Akhlaq menuturkan, bahwa Iskandar Dzulkarnain ketika hendak pergi ekspansi ke dunia timur dan barat lebih dahulu bermusyawarah dengan para hukama’, dan katanya “Bagaimana saya harus pergi demi memperoleh kekuasaan dan kerajaan ini, padahal dunia itu kecil lagi fana dan kerajaan dunia juga hina, berarti bukan cita-cita luhur ?”; Para hukama’ menjawab: “Pergilah tuan, agar engkau dapatkan kerajaan dunia dan akhirat !”; Dzulkarnain menyaut “Nah, bagus itu !”

 

فَلَا تَعْجَلْ بِأَمْرِكَ وَاسْتَدِمْهُ فَمَا صَلَّى عَصَاكَ كَمُسْتَدِّيْمِ

Penyair berkata:

Jangan tergesa dalam melakukan Sesuatu, tapi lakukanlah terus menerus; Tiada yang dapat meluruskan tongkatmu, kecuali meluruskannya terus menerus.

قِيْلَ: قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهِ لِأَبِى يُوْسُفَ: كُنْتَ بَلِيْدًا أَخْرَجَتْكَ الْمُوَاظَبَةُ، وَإِيَّاكَ وَالْكَسَلَ فَإِنَّهُ شُؤْمٌ وَآفَةٌ عَظِيْمَةٌ”.

Ada disebutkan, bahwa Imam Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf “Kamu orang bodoh, tapi kebodohanmu diusir oleh kontinuitas belajarmu maka hindarilah bermalas-malas, karena kemalasan itu jahat dan malapetaka besar“.

قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُوْ نَصْرٍ الصَّقَّارُ الْأَنْصَارِىُّ:

Berkata Syaikh Imam Abu Nashr As Shaffar Al Anshori:

Diriku oh diriku, angan kau bermalas-malasan  Untuk berbakti, berbuat adil dan mengabdi perlahan-lahan

يَانَفْسِ يَانَفْسِ لَا تُرْخِ عَنِ الْعَمَلِ فِى الْبِرِّ وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ فِى مَهَلِ فَكُلُّ ذِى عَمَلٍ فِى الْخَيْرِ مُغْتَبَطٌ وَفِى بلَاءٍ وِشُؤْمٍ كُلُّ ذِى كَسَلِ

Setiap orang berbuat baik, tentu akan dikepengini

Setiap orang malas, tertimpa bencana dan caci maki.

َالَ الْمُصَنِّفُ: وَقَدِ اتَّفَقَ لِى فِى هَذَا الْمَعْنَى شِعْرٌ: دَعِى نَفْسِى التَّكَاسُلَ وَالتَّوَانِى وَإِلَّا فَاثْبُتِّى فِى ذِى الْهَوَانِ

Berkata pengarang kitab: Semakna dengan sair gubahanku sbb: Oh diriku, Hindarkan malas dan menunda-nunda, Kalau tidak, tetaplah kau di lembah hina.

فَلَمْ أَرَ لِلْكُسَالَى الْحَظَّ يُعْطَى سِوَى نَدَمٍ وَحِرْمَانِ الْأَمَانِى

Tidak aku lihat pemalas mendapat bagian, Kecuali sesal dan gagalnya harapan.

 

كَمْ مِنْ حَيَاءِ وَكَمْ عَجْزٍ وَكَمْ نَدَمٍ جَمٍّ تَوَلَّدَ لِلإِنْسَانِ مِنْ كَسَلِ

Ada dikatakan: Bertumpuk malu, lemah dan penyesalan, dialami manusia karena bermalasan.

إِيَّاكَ عَنْ كَسَلِ فِى الْبَحْثِ عَنْ شُبَهٍ مَا قَدْ عَلِمْتَ وَمَا قَدْ عَنْكَ كَسَلَ

Jangan segan-segan membahas apa yang belum jelas, apa yang kau tahu dan yang masih ragu karena malas.

وَقَدْ قِيْلَ: الْكَسَلُ مِنْ قِلَّةِ التَّأَمُّلِ فِى مَنَاقِبِ الْعِلْمِ وَفَضَائِلِهِ،

Adalah sebuah kata mutiara: “Sikap malas itu timbul dari minimnya penghayatan terhadap keistimewaan dan keunggulan ilmu”.

E. Usaha Keras

 

فَيَنْبَغِى أَنْ يُتْعِبَ نَفْسَهُ عَلَى التَّحْصِيْلِ وَالْجِدِّ وَالْمُوَاظَبَةِ بِالتَّأَمُّلِ فِى فَضَائِلِ الْعِلْمِ

Dianjurkan hendaklah penuntuti ilmu memaksimalkan usaha menuju sukses, secara serius dan terus menerus dengan menghayati berbagai keunggulan ilmu;

 رَضِينَا قِسْمَةَ الْجَبَّارِ فِيْنَا لَنَا عِلْمُ وَلِلْأَعْدَاءِ مَالٌ

Aku rela akan bagian Allah untukku, Ilmu bagianku, sedang harta buat para musuh.

فَإِنَّ الْمَالَ يَفْنَى عَنْ قَرِيْبِ وَإِنَّ الْعِلْمَ يَبْقَى لَا يَزَالُ

Dalam waktu singkat, harta akan binasa, Tapi ilmu tetap abadi, tak bakal sirna.

وَالْعِلْمُ النَّافِعُ يَحْصُلُ بِهِ حُسْنُ الذِّكْرِ وَيَبْقَى ذَلِكَ بَعْدَ وَفَاتِهِ فَاِنَّهِ حَيَاةٌ أَبَدِّيَة. وَأَنْشَدَنًا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْأَجَلُّ ظَهِيْرُ الدِّيْنِ مُفْتِى الْأَئِمَّةِ الْحَسَنُ بْنُ عَلَى الْمَعْرُوْفُ بِالْمَرْغِيْنَانِى رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ:

Ilmu yang bermanfaat akan mengangkat reputasi seseorang, dan tetap harum namanya setelah ia meninggal; karena itu hidupnya tetap abadi. Syaikh Imam yang mulia Dhahiruddin mufti para Imam, Al Hasan bin Ali yang dikenal dengan sebutan Al Marghinani mendendangkan sair kepada kami sebagai berikut:

اَلْجَاهِلوْنَ مَوْتَى قَبْلَ مَوْتِهِمْ وَالْعَالِمُوْنَ وَإِنْ مَاتُوا فَأَحَيَاءُ

Para manusia bodoh itu telah mati sebelum mati, Para orang alim itu telah hidup sesudah mati.

وَأَنْشَدَنًا شَّيْخُ الْإِسْلَامِ بُرْهَانُ الدِّيْنِ رَحِمَهُ الله:وَفِى الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ فَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُوْرِ قُبُوْرُ’

Syaikhul Islam Burhanuddin, ra, mendendangkan kami sair sbb. Kematian orang bodoh telah tiba sebelum mati, Tubuhnya telah terkubur sebelum dikubur.

وَإِنَّ امْرَأَ لَمْ يَحْيَى بِالْعِلْمِ مَيِّتُ فَلَيْسَ لَهُ حِينَ النُّشُوْرِ نُشُوْرُ

Orang hidup tanpa ilmu adalah mati, saat kebangkitan tidak dapat bangkit kembali.

وَذُو الْجَهْلِ مَيِّتٌ وَهُوَ يَمْشِى عَلَى الثَّرَى يُظَنُّ مِنَ الْأَحْيَاءِ وَهُوَعَدِيْمُ

Orang bodoh itu telah mati, Padahal ia berjalan di atas bumi, Dikira hidup ternyata mati.

اِذَا الْعِلْمُ أَعْلَى رُتْبَةٍ فِى الْمَرَاتِبِ وَمِنْ دُوْنِهِ عِزُّ الْعُلَى فِى الْمَوَاكِبِ

Ilmu itu sendiri martabat paling mulia,  tapi selain ilmu akan tinggi bila banyak anak buahnya.

فَذُو الْعِلْمِ يَبْقَى عِزُّهُ مُتَضَاعِفًا وَذُو الْجَهْلِ بَعْدَ الْمَوْتِ تَحْتَ التَّيَارِبِ

Kemuliaan orang berilmu abadi berlipat ganda, orang bodoh sesudah mati tertimbun tanah.

فَهَيْهَاتَ لَا يَرْجُوْ مَدَاهُ مَنِ ارْتَقَى رُقِيَّ وَليِّ الْمُلْكِ وَالِى لْكَتَائِبِ

Untuk mencapai puncak kemuliaan ilmu, mustahil bisa, orang yang mendaki bagaikan komandan kavaleri raja

سَأُمْلِى عَلَيْكُمْ بَعْضَ مَا فِيْهِ فَاسْمَعُوْا فَفٍىَّ حَصْرٌ عَنْ ذِكْرِ كُلِّ الْمَنَاقِبِ

Dengarkanlah, aku diktekan sedikit unutukmu, hanya ringkasan untuk menutur kemuliaan ilmu

هُوَ النُّوْرُ كُلُّ النُّوْرِ يَهْدِى عَنِ الْعَمَى وَذُو الْجَهْلِ مَرَّ الدًّهْرِ بَيْنَ الْغَيَاهِبِ

Dia cahaya cemerlang penerang buta, orang bodoh sepanjang masa gelap gulita.

هُوَ الذِّرْوَةُ الشَّمَاءُ تَحْمِى مَنِ الْتَجَا إلَيْهَا وَيُمْسِى آمِنًا فِى النَّوَائِبِ

Dia puncak yang tinggi dan melindungi, setiap orang menjadi aman dari rintangan.

بِهِ يَنْجُى وَالنَّاسُ  فِى  غَفَلَاتِهِمْ        بِهِ يَرْتَجِى وَالرُّوْحُ بَيْنَ التَّرَائِبِ

Dia penyelamat insan di kala terjerat tipu, dia harapan ketika nyawa di ambang pintu

بِهِ يَشْفَعُ الْإِنْسَانُ مَنْ رَاحَ عَاصِيًا        إِلَى دَرْكِ النِّيْرَانِ شَرِّ الْعَوَاقِبِ

Dia sarana, untuk menolong orang durhaka, yang bertindak buruk, lagi menuju kerak neraka.

فَمنْ رَامَهُ رَامَ الْمَآرِبَ كُلَّهَا        وَمَنْ حَازَهُ قَدْ حَازَ كُلَّ الْمَطَالِبِ

Siapa saja tujuannya ilmu, berarti menuju segala-gala. Siapa dia mendapat ilmu, berarti mendapat segala-gala

هُوَ الْمَنْصِبُ الْعَالِى أَيَا صَاحِبَ الْحِجَا        إِذَا نِلْتَهُ هَوِّنْ بِفَوْتِ الْمَنَاصِبِ

Wahai insan berakal, ilmu itu pangkat yang mulia, jika telah kau dapat, pangkat lain lepas tidak mengapa.

 

فَإِنْ فَاتَكَ الدُّنْيَا وَطِيْبُ نَعِيْمِهَا        فَغَمِّضْ فَإِنَّ الْعِلْمَ خَيْرُ الْمَوَاهِبِ

Bila kau ditinggalkan dunia dan segala nikmatnya, lupakanlah, sungguh ilmu anugrah paling berharga.

إِذَا مَا اعْتَزَّ ذُوْ عِلْمٍ بِعِلْمٍ        فَعِلْمُ الْفِقْهِ أَوْلَى بِاعْتِزَازِ

Jika orang alim menjadi mulia karena ilmunya maka ilmu fiqih lebih bisa membawa kesana

فَكَمْ طِيْبٍ يَفُوْحُ وَلَا كَمِسْكٍ        وَكَم طَيْرٍ يَطِيْرُ وَلَا كَبَازٍ

Banyak parfum semerbak, tapi tidak seperti misik, banyak burung terbang, tapi tidak seperti rajawali.

وَأُنْشِدْتُ اَيْضًا لِبَعْضِهِمْ:

الْفِقْهُ أَنْفُسُ شَيْئٍ أَنْتَ ذَاخِرُهُ        مَنْ يَدْرُسِ اْلعِلْمَ لَمْ تَدْرُسْ مَفَاخِرُهُ

Sair gubahan para ulama’lain lagi di bawakan kepadaku: Fiqih itu ilmu termahal, yang engkaulah penghimpunnya, siapa mempelajari ilmu maka tidak habis kebanggaannya

فَاَكْسِبُ لِنَفْسِكَ مَا أَصْبَحْتَ تَجْهَلُهُ        فَأَوَّلُ اْلعِلْمِ إِقْبَالٌ وَآَخِرُهُ

Curahkan minatmu untuk mempelajari apa yang belum tahu, awal dan akhir bahagia, itulah ilmu.

وَكَفَى بِلَذَّةِ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ وَالْفَهْمِ دَاعِيًا وَبَاعِثًا لِلْعَاقِلِ  عَلَى تَحْصِيْلِ الْعِلْمِوَقَدْ يَتَوَلَّدُ الْكَسَلُ مِنْ كَثِرَةِ الْبَلْغَمِ وَالرُّطُوْبَاتِ، وَطَرِيْقُ تَقْلِيْلِهِ، تَقْلِيْلُ الطَّعَامِ

Lezatnya ilmu, fiqih dan lezatnya kefahaman adalah cukup menjadi motivasi bagi orang berakal untuk meraih sukses keilmuan. 

Sikap malas itu terkadang timbul dari akibat terlalu banyak lendir dahak dan cairan-cairan lain dalam tubuh; sedang cara meminimalisir cairan tersebut adalah dengan  mengurangi makan.

.قِيْلَ: اِتَّفَقَ سَبْعُوْنَ نَبِيًّا  عَلٰى أَنَّ كَثِرَةَالنِّسْيَا نِ مِنْ كَثْرَ ةِ الْبَلْغَمِ، وَكَثْرَةَ الْبَلْغَمِ مِنْ كَثْرَةِ شُرْبِ الْمَاءِ، وَكَثْرَةَ شُرْبِ الْمَاءِ مِنْ كَثْرَةِ الْأَ كْلِ

Ada disebutkan: “Tujuhpuluh nabi bersepakat bahwa keseringan lupa itu akibat kebanyakan dahak, dan kebanyakan dahak di sebabkan oleh kebanyakan minum air, dan kebanyakan minum air disebabkan terlalu banyak makan”.

وَالْخُبْزُ الْيَابِسُ يَقْطَعُ الْبَلْغَمَ،  وَكَذَلِكَ  أَكْلُ الزَّبِيْبِ عَلَى الرِّيْقِ، وَلَا َيكْثِرَ مِنْهُ، حَتَّى لَايَحْتَاجَ إِلَى شُرْبِ الْمَاءِ فَيَزِيْدَ الْبُلْغَمُ.وَالسِّوَاكُ يَقَلِّلُ الْبَلْغَمَ، وَيَزِيْدَ الْحِفْظَ وَالْفَصَاحَةَ، فَإِنَّهُ سُنَّةٌ سَنِّيَةٌ، تَزِيْدُ  فِى  ثَوَابِ الصَّلَاةِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ،

Makan roti kering dapan menghilangkan dahak, kemudin pula menelan kismis anggur; namun jangan erlalu banyak agar tidak kepingin minum yang pada akhirnya memproduksi lendir dahak. Bersiwak dapat mengurangi dahak, menambah kuat hafalan dan meningkatkan kefasihan; demikianlah bersiwak termasuk Sunnah Nabi yang dapat menambah pahala shalat dan membaca Al Qur’an.

وَكَذَا الْقَيْءُ يَقَلِّلُ الْبُلْغَمَ وَالرُّطُوْبَاتِ وَطَرِيْقُ تَقَلِّيْلِ الْأَ كْلِ التَّأَمُلُ  فِى مَنَافِعِ قِلَّةِ الْأَ كْلِ، هِىَ الصِّحَّةُ وَالْعِفَّةُ وَالْإيْثَارُ. وَقِيْلَ فِيْهِ شِعْرٌ:

Muntah juga dapat meminimalisir dahak dan cairan-cairan dalam tubuh yang dapat diperlukan adanya. Cara mengurangi makan adalah menghayati berbagai manfaat yang timbul dari minimasi makan; antara lain kesehatan, terhindar dari yang haram dan care terhadap nasib orang lain. Dalam hal ini ada sair dibacakan:

فَعَارٌ ثُمَّ عَارٌ ثُمَّ عَارٌ    شَقَاءُ الْمَرْءِ مِنْ أَجْلِ الطَّعَامِ

Aib,aib dan cela, Karena makan, manusia jadi celaka.

وَعَنِ النَّبِى ﷺ  أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللَّهُ مِنْ غَيْرِ جُرْمٍ: اَلْأَكُوْلُ وَالْبَخِيْلُ وَالْمُتَكَبِّرُ

Hadist Nabi saw menyebutkan: “Tiga orang dimurkai Allah bukan karena berdosa, yaitu: pelahap makan, orang kikir dan orang sombong”.

وَالتَّأَ مُّلُ فِى مَضَارِّ كَثْرَةِ الْأَ كْلِ وَهِيَ اَلْأَمْرَاضُ وَكَلَالَةُ الطَّبْعِ، وَقِيْلَ: اِلْبِطْنَةُ تُذْهِبُ الْفِطْنَةَ حُكِيَ عَنْ جَالِيْنُوْسَ أَنَّهُ قَالَ: الرُّمَّانُ نَفْعٌ كُلُّهُ، وَالسَّمَكُ ضَرَرٌ كُلُّهُ، وَقَلِيْلُ السَّمْكِ خَيْرٌ مِنْ كَثْرَةِ الرُّمَّانِ وَفِيْهِ أَيْضًاإِتْلاَفُ الْمَالِ: وَالْأَ كْلُ فَوْقَ الشَّبَعِ ضَرَرٌ مَحْضٌ وَيَسْتَحِقُّ بِهِ الْعِقَابَ فِي دَارِ الآخِرَةِ، وَالْأَ كُوْلُ بَغِيْضٌ فِى الْقُلُوْبِ

Dan juga menghayati madlarat yang timbul akibat terlalu banyak makan, yaitu timbulnya berbagai penyakit dan bebal; ada kata mutiara menyatakann “Perut kenyang kecerdasan hilang”. Ada hikayat bahwa Galinus berkata; “Buah delima manfaat seluruhnya dan ikat mudlarat seluruhnya, tapi makan ikan sedikit lebih bagus dari pada makan delima banyak-banyak”.Termasuk salah satu mudlarat dalam kasus terlalu banyak makan adalah menghabiskan harta. Makan setelah perut kenyang adalah murni mudlarat dan mendatangkan siksa di akhirat; orang yang terlalu banyak makan itu di benci dan tidak mendapat simpati.

وَطَرِيْقُ تَقْلِيْلِ الْأَ كْلِ: أَنْ يِأْ كُلَ الَأْطْعِمَةَ الدَّسِمَةَ وَيُقَدِّمُ  فِى  الْأْ كْلِ الْأْلْطَفَ وَالْأَشْهَى، وَلَايَأْ كُلَ مَعَ الْجَائِعِ إِلَّا إِذَا كَانَ لَهُ غَرَضٌ صَحِيْحٌ، بِأَنْ يَتَقَوَّى بِهِ  عَلَٰى الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالْأَعْمَالِ الشَّاقَّةِ فَلَهُ ذَلِكَ

Cara lain untuk minimasi makan adalah menyantap makanan yang berlemak (=mengandung zat pemuak), mendahulukan makanan yang halus lagi disukai, dan jangan makan bersama dengan orang yang lagi kelaparan; kecuali jika hal itu di lakukan untuk tujuan yang baik, semisal akan kuat berpuasa,sholat atau tugas-tugas berat lainnya, maka bolehlah demikian.

06: PERMULAAN, UKURAN DAN TATA TERTIB BELAJAR

فَصْلٌ فِى  بِدَايَةِ السَّبْقِ وَقَدْرِهِ وَتَرْتِيْبِهِ

Permulaan belajar, kapasitas dan tata tertib belajar

A. Permulaan Dan Ukuran Belajar

كَانَ أُسْتَاذُنَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ بُرْهَانُ الدِّيْنِ رَحِمَهُ اللهُ يُوْقِفُ بِدَايَةَ السَّبْقِ  عَلٰى يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ،  وَكَانَ يَرْوِىْ  فِى  ذَلِكَ حَدِيْثًا وَيَسْتَدِلُّ بِهِ وَيَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلَمْ: مَا مِنْ شَيْئٍ بُدِئَ فِى يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ إِلاَّ وَقَدْ تَمَّ

Guru kami Syaikhul Islam Bahanuddin, ra, memastikan  permulaan belajar pada hari rabu; Dalam hal ini beliau meriwayatkan hadist sebagai dasar dalilnya, dan katanya; Bersabda Rasulullah  SAW “Tiada suatupun yang di mulai pada hari Rabu kecuali sungguh sempurna

وَ هَكَذَا كَانَ يَفْعَلُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَ اللهُ تَعَلَى . وَكَانَ يَرْوِى هَذَا الْحَدِيْثَ عَنْ أُسْتَادِهِ الشَّيْخِ الْإِمَامِ الْأَجَلِّ قِوَامِ الدِّيْنِ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الرَّشِيْدِ رَحِمَهُ الله: وَسَمِعْتُ مِمَّنْ أَثِقُ بِهِ، أَّنَّ الشَّيْخَ يُوْسُفَ الْهَمَدَانِيَّ رَحَمَهُ اللهْ، كَانَ يُوْقِفُ كُلَّ عَمَلٍ مِنْاَعْمَالِ الْخَيْرِ  عَلَٰى يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ.

Demikian itupun Imam Abu Hanifah berbuat. Syaikh Burhanuddin meriwayatkan hadist tersebut dari gurunya, yaitu syaikh Imam  yang mulia Qiwamuddin Ahmad bin Abdur Rasyid,ra. Saya mendengar dari orang Kepercayaanku, bahwa Syaikh Abu Yusuf Al Hamadani, ra, juga memastikan semua perbuatan bagus dilakukan pada hari rabu.

وَهَذَا لِأَنَّ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ يَوْمٌ خُلِقَ فِيْهِ النُّوْرُ، وَهُوَ يَوْمٌ نَحِسٌ  فِى  حَقِّ الْكُفَّارِ فَيَكُوْنُ مُبَارَكًا لِلْمُؤْمِنِىْنَ.

Demikianlah, karena pada hari Rabu itu Allah menciptakan cahaya, dan hari itu pula merupakan hari sial bagi orang kafir,maka berarti hari berkah bagi orang mukmin.

وَأَمَّا قَدْرُ السَّبْقِ  فِى  الْإِبْتِدَاءِ: كَانَ أَبُوْ حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللهْ يَحْكِى عَنِ الشَّيْخِ الْقَاضِى الْإِمَامِ عُمَرَ بْنِ أَبِى بَكْرٍ الزَّرَنْجِيِّ أَنَّهُ قَالَ: قاَلَ مَشَايِخُنَا رَحِمَهُمُ اللهْ: يَنْبَغِى أَنْ يَكُوْنَ قَدْرَ السَّبْقِ لِلْمُبْتَدِئِ قَدْرَ مَا يُمْكِنُ ضَبْطُهُ بِالْإِعَادَةِ مَرَّتَيْنِ وَيَزِيْدُ كُلَّ يَوْمٍ كَلِمَةً حَتَّى أَنَّهُ وَإِنْ طَالَ وَكَثْرَ يُمِكِنُ ضَبْطُهُ بِالْإِعَادَةِ مَرَّتَيْنِ، وَيَزِيْدُ بِالرِّفْقِ وَالتَّدْرِيْجِ،

Adapun ukuran pelajaran permulaan adalah sbb.: Imam Abu Hanifah, ra, menghikayatkan dari Syaikh Qadli Imam Umar bin Abu Bakar Az Zaranji, ra, katanya: Para guru kami berkata “Sebaiknya ukuran pelajaran bagi pemula adalah sepanjang yang bisa ia hafal dengan mengulang dua kali; kemudian ditambahvsedikit demi sedikit pada setiap hari, sehingga setelah pelajaran menjadi banyak dan panjangpun tetap bisa dihafal dengan mengulang dua kali; kemudian lambat laun pelajaran akan bertambah setapak demi setapak;

 وَأَمَّا إِذَا طَالَ السَّبْقُ  فِى  الْإِبِتْدَاءِ وَاحْتَاجَ الْمُتَعَلِّمُ إِلَى الْإِعَادَةِ عَشْرَ مَرَّاتٍ فَهُوَفِى الْإِنْتِهَاءِ أَيْضًا يَكُوْنُ كَذَلِكَ، لِأَنَّهُ يَعْتَادُ ذَلِكَ، وَلَا يَتْرُكُ تِلْكَ الْإِعَادَةَ إِلاَّ بِجُهْدٍ كَثِيْرٍ

Apabila pelajaran pertama terlalu panjang sehingga untuk menghafalnya perlu mengulang sepuluh kali, maka seterusnya sampai akhirpun akan demikian; karena hal tersebut telah menjadi kebiasaan yang amat susah untuk di buang.

قَدْ قِيْلَ: اَلسَّبْقُ حَرْفٌ، وِالتِّكْرَارُ أَلْفٌ وَيَنْبَغِى أَنْ يَبْتَدِئَ بِشَيْئٍ يَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَى فَهْمِهِ

Ada kata mutiara: “Pelajaran baru satu huruf  tapi diulang-ulang seribu kali”. Sebaiknya di mulai dengan pelajaran yang mudah difahami;

B. Tingkat Pelajaran Dan Cara Memahami

S.

C. Mendiskusikan Ilmu

S.

D. Berfikir Dan Mendalami Ilmu

S.

E. Pembiayaan Ilmu Dan Bersyukur

S.

F. Berkorban Harta

S.

G. Belajar Keterampilan Dan Mengukur Kemampuan Diri

S.

H. Menghafal Pelajaran

S.

07: TAWAKKAL

J.

A. Rezeki Dan Urusan Dunia

S.

B. Hidup Prihatin

S.

C. Menggunakan Semua Waktu Untuk Ilmu

S.

08: MASA BELAJAR EFEKTIF

J.

09: KASIH SAYANG DAN NASEHAT

J.

A. Kasih Sayang

S.

B. Menjauhi Perselisihan

S.

C. Berfikir Positif

S.

10: MENCARI FAEDAH

J.

A. Memanfaatkan Waktu Belajar

S.

B. Mengambil Pelajaran Dari Yang Lebih Tua

S.

C. Prihatin Dan Rendah Hati

S.

11: WARA’ SAAT MENCARI ILMU

J.

A. Wara’

S.

B. Menjaga Perilaku Dan Sunnah Rasul

S.

12: PENYEBAB HAFAL DAN LUPA

J.

A. Faktor Yang Memudahkan Hafal

S.

B. Faktor Penyebab Lupa

S.

13: HAL YANG MENDATANGKAN DAN MENJAUHKAN REZEKI, MENAMBAH DAN MENGURANGI UMUR

J.

A. Hal Yang Menjauhkan Rezeki

S.

B. Hal Yang Mendatangkan Rezeki

S.

C. Yang Memperpanjang Umur

S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *